I’m Moving

I’m Moving

Jadi..

Setelah bereksperimen di beberapa penyedia blog gratisan — sebut saja Blogspot, Multiply (sebelum dia jadi pasar online seperti sekarang), blog di Friendster, dan WordPress — saya akhirnya membulatkan tekad pindah ke blog berbayar (untuk domain & hosting) di http://twiras.net

Silahkan mampir ya..

Saat ini isinya masih berupa lanjutan posting-posting sebelumnya di blog ini. Wait & see what’s coming next.

Terima kasih buat kamu yang sudah menyempatkan membaca tulisan saya di sini, yang kasih comment, dan yang subscribe.

Write to you later :)

Last Supper

Last Supper

Kamu berubah.

Tidak lagi menyambutku dengan riang. Malahan bertanya sedang apa aku di sini.

Padahal aku hanya ingin makan malam bersamamu. Tak jauh-jauh. Di warung tenda dekat kantormu itu. Aku tahu kamu sibuk mengurus bisnismu.

Malam ini saja aku akan memaksamu keluar dari ruang kerjamu yang sejuk, memalingkan wajahmu sebentar dari laptopmu, menculik tanganmu dari smartphonemu.

Malam ini aku ingin kamu menggenggam tanganku, seperti dulu aku menggenggam tanganmu. Karena sepertinya hanya malam ini kesempatanmu kembali padaku.

“Brakkk!”

“Papa!!”

Sirene ambulan meraung di jalanan lengang.

Sekali lagi aku menghianati janji makan malam bersama papa.

Dan tak ada kata ‘besok, untuk menebusnya.

Thank You Thank Me

Thank You Thank Me

Baru saja membaca blog post Tiny Buddha di sini.

Dan jadi ingin ikutan berterima kasih ke diri sendiri di tahun 2011. (Mumpung masih ingat.)

Jadi.. Hai Tere setahun yang lalu..

Terima kasih kamu sudah menjalani komitmen kerja di tempat baru sesuai yang kamu janjikan pada diri sendiri.

Terima kasih kamu gak nyerah saat terpaksa ‘bermain tunggal’ di divisi tempat kamu bekerja.

Terima kasih kamu mau membuka hati & pikiran untuk orang-orang yang sebelumnya kamu pandang sebelah mata.

Terima kasih kamu memberanikan diri berinteraksi dengan orang-orang yang sebelumnya kamu segani.

Terima kasih kamu move on dan berani menyapa kryptonite-mu duluan.

Terima kasih kamu nekad nyemplung ke laut. (Walaupun akhirnya gak ngapa-ngapain juga selain ketakutan.)

Terima kasih kamu memberanikan diri trekking. (Walaupun khawatir kalau nafas pendekmu bakal jadi tantangan di perjalanan.)

Terima kasih kamu mencoba mengerjakan project 30 hari menulis cerita 100 kata. (Walaupun kandas di tengah jalan.)

Terima kasih kamu gak nyerah dengan project Cerita 100 Kata-mu itu.

Terima kasih kamu mencoba bernyayi bareng #ThinkVoice di depan orang-orang yang kamu kenal maupun yang tidak.

Terima kasih kamu menyelesaikan membaca satu (atau dua) buku.

Terima kasih kamu berusaha ‘menjaga’ keluargamu.

Terima kasih kamu berusaha ‘berdamai’ dengan diri sendiri.

Terima kasih kamu berusaha menjalani 365 hari di tahun itu sebagai dirimu yang utuh.

Ps : I know you can make it even better this year :)

Sesama Fans Dilarang Saling Menghalangi

Sesama Fans Dilarang Saling Menghalangi

Sebenarnya cuma mau bilang itu kok ke 4 mbak-mbak yang mangkal gak strategis di pojokan section Y2 di hall SICC pada konser Katy Perry, Kamis 19 Januari lalu. Tapi praktinya gak segampang itu.

Waktu saya, Sessi, Anin & Mega masuk ke area konser, opening act oleh DJ Skeet Skeet sudah dimulai. Sekitar jam 21:00, DJ merampungkan aksinya dan lampu hall kembali dinyalakan. Dan terlihatlah 4 mbak-mbak berdiri di pojokan, di tikungan antara tangga & lorong, yang seharusnya jadi ‘pangkalan’ para petugas crowd control.

Pelan-pelan terdengar protes dari audience yang duduk di barisan di atas kami. Waktu itu saya & teman-teman kebagian di baris ke-2 dari bawah. Mereka protes karena kehadiran 4 mbak-mbak itu mengganggu pandangan mereka ke paggung. Dan Katy Perry bisa kapanpun muncul di panggung!

“Gak bener nih!” kata Tere si penegak kebenaran pembela kebetulan. Jadilah saya ikut-ikutan protes ke 4 mbak-mbak itu. Sebenarnya pandangan ke arah panggung dari bangku saya baik-baik saja. Tapi saya terganggu dengan prilaku ke-4 mbak-mbak ini yang tidak menghargai fans lainnya dengan menghalangi mereka. Plus, mereka tidak menghargai kerja para petugas crowd control yang ternyata sudah berkali-kali menegur mereka. Makin panaslah hati Tere si penegak kebenaran pembela kebetulan.

Banyak kata & kalimat dilontarkan untuk ke-4 mbak-mbak itu, tapi mereka tidak terlihat peduli. Teguran halus. Cacian. Saya sampai turun ke arah mereka, berdiri di samping mereka, mengambil foto mereka dengan kamera poket (yang sebetulnya pada saat itu sudah ‘memory full’) & handphone. They just can’t be moved.

Sessi, si kakak sayang adik, sampai terlihat gak santai saat menegur mereka. ‘Heh! Kamu jangan ketawa-ketawa ya! Sadar gak sih semua pada protes ke kamu?!’ (Note : Gak setiap hari bisa lihat Sessi gak santai kaya begini.)

Singkat cerita..

Tiga dari 4 mbak-mbak itu akhirnya menyerah dan meninggalkan section Y2. Entah kemana. Sementara satunya, si pirang berbaju fishnet, ‘keukeuh’ berada di area Y2, mengambil posisi duduk di ujung tangga.

Tak lama lampu hall kembali redup. Lampu sorot kembali beraksi. Tirai di atas panggung terangkat. Katycats dan tidak-terlalu-Katycats-seperti-saya berteriak menyambut the California girl. And we didn’t give a sh*t to the blondie with fishnet.

Buat Tere si penegak kebenaran pembela kebetulan, kebenaran telah ditegakkan dalam sebuah pembelaan yang kebetulan.

Salam,
#terejahat

Memasuki 2012 dengan #BalsemTrip

Memasuki 2012 dengan #BalsemTrip

Seperti apa caramu menghabiskan malam pergantian tahun kemarin?

I spent it with breathtaking experience. And by saying breathtaking, I meant literally.

Begini ceritanya..

Fitri, Ellie & saya menyempatkan berlibur bersama keliling Batu – Malang – Pulau Sempu pada akhir tahun kemarin, tepatnya dari 27 Desember 2011 sampai 2 Januari 2012 (yang kemudian diperpanjang sampai 3 Januari 2012). Dan rangkaian kejadian yang membuat perjalanan kami diperpanjang inilah klimaks dari #balsemtrip kami.

Kami memulainya dengan berekreasi ke pusat-pusat wisata Batu & Malang ala anak SD yang sedang liburan sekolah. Lihat saja lokasi-lokasi yang kami kunjungi : Jatim Park II, Selecta, Batu Night Spectacular dan alun-alun Kota Batu dan Malang. Liburan sekolah banget kan! :D

Dari lokasi rekreasi yang saya sebut di atas, alun-alun Kota Batu mungkin jadi yang paling istimewa.

Kehadirannya di tengah Kota Batu jadi oase yang membuat daerah pegunungan ini bahkan lebih sejuk. Dari fasilitasnya yang masih terjaga rapi, sepertinya alun-alun Kota Batu masih terbilang baru. Cmiiw.

Buat saya, alun-alun Kota Batu jadi miniatur semua lokasi rekreasi yang ada di Batu. Hamparan bunga berwarna-warni yang menghiasi alun-alun seperti Selecta mini. Ferris Wheel dan rangkaian lampion seperti mewakili wahana-wahana yang ada di Batu Night Spectacular.

Yang juga menarik di alun-alun Kota Batu adalah rekaman suara walikota Kota Batu yang disampaikan lewat pengeras suara di alun-alun. Isinya kurang lebih ucapan selamat Natal untuk warga yang merayakan, ucapan selamat tahun baru untuk seluruh warga dan himbauan untuk menjaga Kota Batu. Awalnya terdengar cukup aneh, saat kita tengah duduk santai di alun-alun dan mendengan ‘propaganda’ semacam itu :D

Alun-alun Kota Batu juga didukung dengan wisata kuliner di sekitarnya. Sebut saja pilihan toko/warung/tenda apel Malang dan jajanan olahannya, susu KUD (susu pasteurisasi), pos ketan, tahu campur & lalapan. (Fyi, yang dimaksud ‘lalapan’ di sini bukan sekadar sayur-sayuran yang dilalap, tapi juga lauk ayam/bebek/ikan/lainnya)

Nah.. Kembali ke klimaks #balsemtrip..

Seolah mencoba melawan hukum ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’, kami sepakat menjadikan Pulau Sempu destinasi terakhir dari rangkaian liburan kali ini — without knowing what would happen back then.

Perjalanan dari kota Malang ke Pulau Sempu diawali dengan mencari sewa peralatan camping saat kami duduk manis menikmati es krim di Toko Oen di waktu hujan sore-sore. Dan, percaya gak sih, urusan sewa alat camping ini punya drama tersendiri loh!

Dari mas-mas di ‘Piknik Rental’ kami dapat rumor bahwa izin untuk menginap di Pulau Sempu di-suspend selama 31 Des – 1 Jan, katanya untuk menghindari ‘sampah tahun baruan’. Waduh!  Tapi.. gakpapa deh.. Nekat aja. Tetep datang lengkap dengan alat camping; kalau boleh nginep tinggal nyebrang, kalo gak boleh ya tinggal pulang. Sayangnya si Piknik Rental ini sudah kehabisan alat camping.

Rental ‘Do Rent’, yang kami kenal dari sebuah referensi blog post, ternyata tidak cukup ramah kepada calon sewanya. Sadar bahwa kami menghubungi mereka diluar jam kerja, kami meminta ‘pengertian’ mereka. Dan jawabannya hanya : Coba datang aja. Oke, dan kamipun meluncur ke Jl. Kedawung XV. Eh.. sesampainya di sana kami disambut jutek sama mbak-mbak yang kami sinyalir adalah orang yang sama yang menjawab telepon kami. ‘Kan sudah tutup,’ katanya. KALAU SUDAH TUTUP DAN GAK TERIMA SEWA LAGI, KENAPA TADI PAKE BILANG ‘COBA DATANG AJA’! *capslockunited

Rental ‘Kaldera‘, yang kami kenal dari papan reklame dekat terminal Landongsari, jadi harapan terakhir kami. Walaupun agak ragu setelah kecewa dengan 2 penyewaan alat camping sebelumnya, kami tetap meluncur ke sana. Dan berjodohlah kami dengan seperangkat alat camping disewa tunai!  Kalau ada jasa yang ‘memberi lebih dari yang Anda bayarkan’, mungkin Kaldera salah satunya.

Pulau Sempu here we come!

Kami berangkat jam 5 pagi dari tempat penginapan di daerah Borobudur ke terminal Gadang. Dari sana kami ganti angkot ke Pasar Turen. Dari Pasar Turen, perjalanan menuju Sendang Biru kami tempuh dengan minibus yang dipaksakan memuat 20 penumpang. Bayangkan seni melipat tubuh yang kami praktikkan selama perjalanan! Total waktu tempuh dari penginapan ke Sendang  Biru.. cukup 5 jam saja.

Sepakat playing the game by the rule, di Sendang Biru kami mengikuti proses yang diminta secara baik-baik (kalau tidak bisa dibilang dipaksakan). Diantaranya, menyimak nasihat bapak yang bertugas di kantor konservasi Pulau Sempu, mengisi surat izin (termasuk ninggalin KTP & bayar administrasi), menyewa guide untuk trekking & menyewa sepatu karet. I thank the last two mandatories; trekking guide sangat menolong, begitupun sepatu karet.

 

Dari Sendang Biru menyebrang ke Pulau Sempu dengan perahu nelayan yang disewakan seharga Rp100.000 untuk antar-jemput. Perahu hanya mengantar sampai Teluk Semut. Dari teluk kami akan trekking ke Segara Anakan — yang disebut-sebut sebagai The Beach-nya Indonesia. Konon perjalanan Teluk Semut – Segara Anakan bisa ditempuh dalam 1 sampai 8 jam. Tergantung kondisi trek dan kekuatan fisik (dan mental) trekker. Saya agak jiper sebenarnya. Nafas saya pendek, jangankan trekking sambil menyandang tas berisi logistik, lari keliling lapangan sepakbola aja saya bisa ngos-ngosan. Dengan 3-4 kali rehat untuk minum, plus tas saya dibawakan oleh mas Edi sang trekking guide, we finally did it within 2 hours!

Yang saya dapatkan di Segara Anakan.. was far from expectation.

~photo by Ellie

~photo by Ellie

Segara Anakan penuuuhhh dengan orang-orang seperti kami yang ingin menghabiskan malam pergantian tahun di sana. (Damn! We’re so mainstream.)

Maka, jadilah indahnya pemandangan danau biru kehijauan, batu karang yang berdiri tegar membentengi kami dari Samudera Hindia dan pepohonan lebat di atasnya ‘tertutupi’ pemandangan tenda-tenda yang bersebelahan macam di gang senggol, jemuran dan sampah bungkus makanan para penghuni sementara pulau ini.

Buat saya, ya.. setidaknya sudah menandai Pulau Sempu sebagai ‘been there’.

Dan detik-detik pergantian tahun 2011 ke 2012 kami lalui dengan perut kenyang terisi mie instan, sosis & kornet, badan segar sehabis mandi pakai tissue basah, dan pikiran damai penuh resolusi tahun baru. Walaupun sesekali terganggu bunyi jedar-jeder petasan bawaan penghuni tenda tetangga.

#Balsemtrip Extended.

Rencananya kami pulang dari Malang ke Jakarta dengan kereta Gajayana pada 2 Januari sore. Tapi alam berkata lain dan mengambilalih perjalanan pulang dari Sendang Biru ke Kota Malang dengan kekuatannya.

Idealnya perjalanan pulang cukup merunut mundur perjalanan pergi : naik minibus ke Pasar Turen, sambung angkot ke Terminal Gadang, balik ke D’Fresh tempat kami menitipkan sebagian tas bawaan kami. Idealnya..

Menurut info sopir angkot carteran, jalur Pasar Turen – Sendang Biru mengalami suatu situasi (alam) yang membuat para penarik angkot segan menempuh jalan itu. Jangan harap melihat minibus warna biru telur asin itu dalam jangka waktu dekat deh!

Maka satu-satunya cara kembali ke Pasar Turen adalah.. numpang! Berdiri di tengah hujan dengan cardboard bertuliskan ‘Numpang Malang. Mau bayar,’ sambil melambaikan tangan. And this is exactly what we did.

Satu motor. Dua angkot carteran. Tiga mobil. Banyak kendaraan yang melewati kami, membaca tulisan kami, dan berlalu begitu saja.

Sampai sebuah truk melambatkan lajunya, menepi ke warung tempat kami berteduh dan mempersilahkan kami numpang. Cukup beliin rokok untuk pak sopir! :’)

Long story short. Kami memperpanjang #balsemtrip semalam. Menginap semalam lagi di kamar hotel yang memanjakan dengan fasilitasnya. Merencanakan perjalanan pulang alternatif ke Jakarta; dengan kereta, dengan bus, bahkan dengan pesawat kalau perlu (khususnya saya yang mengejar kembali ke kantor per tanggal 3 Januari).

Sebagai ganti kereta eksekutif Gajayana dengan rate peak season yang ‘hangus’, kami pulang ke Jakarta menggunakan kereta bisnis Senja Kediri.

Good random people at #balsemtrip.

Perjalanan 8 hari 7 malam di Batu, Malang & Pulau Sempu mempertemukan kami dengan orang-orang baru. Some are good people, some are.. yeah well, just people.

Here’s a thank you list for good random people we meet on the crossroad :

Yoseph yg membantu mencarikan tempat penginapan di Batu & Malang, Indra pusat informasi seputar Malang yg meski tidak akurat tapi membantu, bapak owner D’Fresh guest house yg kasih harga spesial, Mbak Riska pegawai D’Fresh yang kooperatif, Bapak Takim sopir angkot Selecta yg menawarkan jasa carter (sayang, jasanya gak jadi kami pakai), pasangan kakak-adik-ketemu gede yg mengizinkan kami numpang di angkot carterannya, Mas Temon pengurus penyewaan alat-alat outdoor Kaldera yg bahkan berbaik hati menawarkan kami menginap di ruang sekretariat, temannya mas Temon yg memastikan pulang dengan angkot yang benar, Pak Edi tour guide dari Sendang Biru ke Segara Anakan — terutama buat saya karena dia membantu membawakan tas berisi logistik yang jadi tanggung jawab saya selama treking pergi ke Pulau Sempu, mas-mas pengunjung P. Sempu dari Surabaya yg membagi air minum bersih, orang-orang di suatu warung di Sendang Biru yg menemani kami mencari tumpangan pulang ke Malang, sopir truk & ‘keluarga besar’nya yg mengizinkan kami numpang dari Sendang Biru ke Sumber Manjing, Pak Teguh yg menawarkan jasa carter mobil dan mengantar kami dari Sumber Manjing ke Malang. Teman-teman ‘cah ngalam’ (Alit, Plak, Risna) yg udah jadi pusat informasi wisata Malang jarak jauh.

Orang-orang inilah yang kembali meyakinkan saya kalau masih ada orang asing yang baik di luar sana.

Selamat datang 2012.

Menutup #balsemtrip dan memulai 2012, saya cuma bisa berbisik, mengutip tagline sebuah produk : Life is an adventure.

Man Who Can’t Be Moved*

Man Who Can’t Be Moved*

Pengunjung itu telihat setia menemani pasien kamar 141. Sudah seminggu lebih.

Sesekali terlihat sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Sesekali keluar makan. Tak pernah meninggalkan rumah sakit.

Rutin memeriksa status kesehatan pasien ke dokter.

Dan menangani semua biaya.

Saat ditanya hubungannya dengan pasien, “Saya bukan siapa-siapanya,” katanya. Tapi sampai hari ini hanya dia yang berjaga di sisi pasien yang sedang koma.

Belakangan keluarga pasien mulai berdatangan. Mereka terlihat akrab dengan si pengunjung setia.

“Gimana kondisi papa?”

Dia jelaskan perkembangan pasien dengan detil.

“Ok. Gue masih akan bolak-balik nih.. Lo masih bisa bantuin jaga kan? Habis ini gue transfer bayarannya.”

Dan mereka bersalaman.

*meminjam judul lagunya The Script

Malam Panjang

Malam Panjang

Tengah malam. Terjaga.

Teringat kamu. Dan malam-malam yang kita lalui bersama.

Saat kamu bercerita tentang jatuh cinta. Saat kamu bercerita tentang patah hati. Sukamu. Dukamu. Lelahmu. Bahagiamu. Semua tentangmu.

Kamu bercerita. Aku mendengarkan.

Selalu begitu.

Membuatku muak.

Cukup!

Sudah lama kamu menyekapku di ruang gelap ini.

Mengikat tanganku. Membungkam mulutku.

Memaksaku mendengarkan hikayatmu. Merelakan diri ini dicumbui sesukamu. Merelakan diri ini dibuat legam, sehitam bencimu.

Tidak malam ini!

Malam ini kita berganti peran.

Cukup bagiku melihatmu terikat di kursi itu. Lebam di wajahmu. Rintihnya suaramu.

Dan bayangan nyala api di matamu.. sesaat sebelum kuberbalik arah meninggalkanmu di ruang gelap itu.

Terima Rapor

Terima Rapor

Bu, ada surat panggilan dari sekolah.

Hmm..

Kapan Ibu mau ambil rapor?

Hmm..

—–

Surat panggilan untuk ibu sudah disampaikan?

Sudah Pak.

Berarti hari ini ibu akan datang mengambil rapor kan?

—–

Saya senang Ibu akhirnya datang juga. Tidak baik menunda-nunda terima rapor. Apalagi kalau selalu diwakilkan.

Hmm..

Nilainya turun drastis di semester ini.

Hmm..

Maaf kalau saya lancang, tapi.. apakah sedang ada masalah di keluarga Ibu?

Sejak kamu keluar dari pintu rumah, masalah di keluarga saya gak ada hubungannya dengan kamu! Lebih baik kamu pikirkan gimana cara mendidik anak kita di sekolah. Biar saya yg pikirkan gimana cara mendidiknya di rumah!

Prabu Resolusi (Bukan Nama Sebenarnya)

Prabu Resolusi (Bukan Nama Sebenarnya)

Resolusi (kb) : putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. ~kateglo.bahtera.com

Saya dulunya prabu resolusi. Dikit-dikit bikin resolusi. Sedikit yang tercapai tepat waktu. Banyak yang repost di tahun berikutnya.

Sampai pada suatu saat saya merasa tidak perlu lagi membuat resolusi (secara tertulis). Lebih karena malu membaca banyaknya tuntutan terhadap diri sendiri yang tidak bisa saya penuhi. But I still think of (and post in this blog) a few goals in my lifespan. Tanpa deadline sepertinya lebih aman.

Beberapa hari lalu, saat masih duduk terpaku di depan komputer kantor, saya memikirkan beberapa hal yang akan saya deklarasikan sebagai ‘Resolusi 2012′. Kemudian saya tersadar dari kekhilafan itu. Menyatakan resolusi rupanya masih sangat menggoda ya :D

Sejauh ini hanya satu resolusi pribadi untuk 2012 yang berani saya deklarasikan : mencetak kumpulan 100 cerita 100 kata untuk 100 orang.

Dukung saya ya.. Dengan doa, dengan reminder, dengan sindiran, dengan pecutan, dengan apapun yang ikhlas dari kamu halal buat saya :)

Quit. Let Go.

Quit. Let Go.

“All the art of living lies in a fine mingling of letting go and holding on.” ~Havelock Ellis

Salah satu posting tinybuddha.com yang saya baca di twitter & newsletter-nya.

Kebetulan, saat ini saya juga sedang baca The Dip-nya Seth Goding. Guess what The Dip says? The extraordinary benefits of knowing when to quit (and when to stick).

Serupa. Tak sama. Relevan dengan hal-hal yang saya alami, yang baru saya pikirkan belakangan ini.

Saya bukan orang yang mudah melakukan dua hal ini : letting go & knowing when to quit. Tidak mudah loh, bukannya tidak bisa.

Dimulai dari hal kecil. Hal semacam naksir. Atau patah hati. (Disclaimer : besar kecilnya ukuran naksir atau patah hati tergantung dari siapa yang melihatnya ya..)

Dalam hal naksir, saya mengalami kesulitan pada ‘to quit’. Padahal sadar diri kalau saya naksir pacar orang. Atau naksir orang yang cuma manfaatin saya. Pilihan ‘to stick’ itu lebih romantis, lebih menjanjikan saya dengan harapan. Siapa tau dia itu jodoh lo. Bisa aja dia sekarang pacaran sama orang lain tapi berjodoh sama lo. Gak kok, dia gak lagi manfaatin lo. Itu cuma caranya untuk deket sama lo. My sister and my brother, kalau kamu pernah membodoh-bodohi diri sendiri/orang lain dengan ide seperti ini.. say amen with me!

Dalam hal patah hati, saya mengalami kesulitan pada ‘letting go’. Khususnya saat realitas berkonspirasi dan menyatakan kepada saya : you can never be his woman. Pilihan ‘holding on’ itu lebih heroik, lebih menggoda. Cinta kan gak harus memiliki. Try say that again..

Tapi, ah, naksir & patah hati itu hal kecil. Sepele. *pasang tameng, siap-siap menghadapi aksi protes kalian*

Ada hal lebih besar daripada naksir & patah hati yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Yang menghadapkan saya pada pilihan : letting go or holding on; to quit or to stick.

Hal lebih besar itu bernama : pekerjaan.