Category Archives: imaginarium

Last Supper

Last Supper

Kamu berubah.

Tidak lagi menyambutku dengan riang. Malahan bertanya sedang apa aku di sini.

Padahal aku hanya ingin makan malam bersamamu. Tak jauh-jauh. Di warung tenda dekat kantormu itu. Aku tahu kamu sibuk mengurus bisnismu.

Malam ini saja aku akan memaksamu keluar dari ruang kerjamu yang sejuk, memalingkan wajahmu sebentar dari laptopmu, menculik tanganmu dari smartphonemu.

Malam ini aku ingin kamu menggenggam tanganku, seperti dulu aku menggenggam tanganmu. Karena sepertinya hanya malam ini kesempatanmu kembali padaku.

“Brakkk!”

“Papa!!”

Sirene ambulan meraung di jalanan lengang.

Sekali lagi aku menghianati janji makan malam bersama papa.

Dan tak ada kata ‘besok, untuk menebusnya.

Man Who Can’t Be Moved*

Man Who Can’t Be Moved*

Pengunjung itu telihat setia menemani pasien kamar 141. Sudah seminggu lebih.

Sesekali terlihat sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Sesekali keluar makan. Tak pernah meninggalkan rumah sakit.

Rutin memeriksa status kesehatan pasien ke dokter.

Dan menangani semua biaya.

Saat ditanya hubungannya dengan pasien, “Saya bukan siapa-siapanya,” katanya. Tapi sampai hari ini hanya dia yang berjaga di sisi pasien yang sedang koma.

Belakangan keluarga pasien mulai berdatangan. Mereka terlihat akrab dengan si pengunjung setia.

“Gimana kondisi papa?”

Dia jelaskan perkembangan pasien dengan detil.

“Ok. Gue masih akan bolak-balik nih.. Lo masih bisa bantuin jaga kan? Habis ini gue transfer bayarannya.”

Dan mereka bersalaman.

*meminjam judul lagunya The Script

Malam Panjang

Malam Panjang

Tengah malam. Terjaga.

Teringat kamu. Dan malam-malam yang kita lalui bersama.

Saat kamu bercerita tentang jatuh cinta. Saat kamu bercerita tentang patah hati. Sukamu. Dukamu. Lelahmu. Bahagiamu. Semua tentangmu.

Kamu bercerita. Aku mendengarkan.

Selalu begitu.

Membuatku muak.

Cukup!

Sudah lama kamu menyekapku di ruang gelap ini.

Mengikat tanganku. Membungkam mulutku.

Memaksaku mendengarkan hikayatmu. Merelakan diri ini dicumbui sesukamu. Merelakan diri ini dibuat legam, sehitam bencimu.

Tidak malam ini!

Malam ini kita berganti peran.

Cukup bagiku melihatmu terikat di kursi itu. Lebam di wajahmu. Rintihnya suaramu.

Dan bayangan nyala api di matamu.. sesaat sebelum kuberbalik arah meninggalkanmu di ruang gelap itu.

Terima Rapor

Terima Rapor

Bu, ada surat panggilan dari sekolah.

Hmm..

Kapan Ibu mau ambil rapor?

Hmm..

—–

Surat panggilan untuk ibu sudah disampaikan?

Sudah Pak.

Berarti hari ini ibu akan datang mengambil rapor kan?

—–

Saya senang Ibu akhirnya datang juga. Tidak baik menunda-nunda terima rapor. Apalagi kalau selalu diwakilkan.

Hmm..

Nilainya turun drastis di semester ini.

Hmm..

Maaf kalau saya lancang, tapi.. apakah sedang ada masalah di keluarga Ibu?

Sejak kamu keluar dari pintu rumah, masalah di keluarga saya gak ada hubungannya dengan kamu! Lebih baik kamu pikirkan gimana cara mendidik anak kita di sekolah. Biar saya yg pikirkan gimana cara mendidiknya di rumah!

Ingat-ingat Pesan Mami

Ingat-ingat Pesan Mami

“Pokoknya gua mau pergi!”

“Pergi aja! Bawa anak lu sekalian. Cuma bikin gua susah!”

“Dia anak lu juga. Jangan bilang dia bikin susah!”

“Terserah. Gua mau lihat lu bisa apa kalo keluar dari rumah ini. Paling-paling cuma bisa ngangkang.”

“Biar ngangkang, gua bisa bikin uang. Gak kaya lu. Lan ciau!”

—–

“Lu mau kemana?”

“Gak tau. Yang pasti gua harus keluar hari ini juga. Laki gua udah mulai gak beres.”

“Ya udah. Gua cariin kosan buat lu sama anak lu, ya.”

—–

“Lu yakin mau kawin sama dia?”

“Yakin, Mi.”

“Kalo mami lihat dia orangnya gak beres. Nantinya bakal bikin lu susah.”

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Korek Api

Korek Api

“Ada korek?” Obrolan santai pertama kami dibuka dengan pertanyaanku ini.

Dia mengeluarkan korek berwarna dominan merah, yang dinamainya ‘Si Jago’. “Kalau kehabisan gas, gimana?” “Beli lagi, tapi yang persis kaya itu.”

Sejak hari itu niatku berhenti merokok malah padam. Sejak yang kunikmati bukan hanya tembakau terbakar, tapi juga setiap hembusan asap bersamanya.

Hari ini. Jam ini. Duduk di lobby belakang. Tanpa rokok. Tanpa dia. Hanya Si Jago yang dititipkannya dengan janji “I’ll be back for our ciggy break.”

Setahun sudah. Tanpa kabar.

“Ada korek?” Suara seseorang yang sepertinya juga bekerja di gedung ini membuyarkan lamunanku.

“Ada.”
“Ambil saja. Saya berhenti.”

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Dibalik Jendela

Dibalik Jendela

Kopi tak lagi hangat. Begitupun roti panggang. Tapi aku masih betah duduk sendiri di meja untuk berdua ini. Memandangmu, yang juga duduk sendiri di meja untuk berdua, dibalik jendela.

Dalam khayalku, kita duduk di satu meja. Berbagi cerita. Beradu pendapat. Berderai tawa. Berdiam. Berpandangan.

Tangan kananku menyusuri tepian meja. Dalam khayalku, kugenggam tangan kirimu.

Tanganmu beringsut melepaskan diri. Membetulkan posisi kaca mata yang tidak bergeser sedikitpun dari tadi.

“Sori lama,” suara itu membuyarkan khayalku. “Sampai mana kita tadi?”

Mataku menyapu pemandangan dibalik jendela. Dia yang tadi ada dalam khayalku telah hilang. Berganti rupa menjadi dia yang kini duduk di hadapanku.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Drama Queen

Drama Queen

Namanya Wita.

Kukenal sejak jaman kuliah. Sempat kupacari tujuh hari, sebelum dia bilang : Aku lebih suka kita sebagai sahabat.

Tidak masalah. Toh dia selalu berakhir di pelukanku, dengan cerita putus cintanya. Katanya : Emang cuma kamu yang nerima aku apa adanya.

Tidak malam ini.

Kriiing.

Yo, malam ini aku nginep di tempatmu ya.. Aku lagi gak mau sendirian.

Emangnya kenapa lagi?

Bima.. Udah deh, aku ceritain nanti. Pokoknya aku gak mau sendiri.

Nggak bisa, Ta.

Kenapa? Kamu ada acara ya? Aku tunggu deh..

Gak ada acara, Ta. Tapi kamu gak bisa mampir lagi ke tempatku.

Kamu butuh penonton, bukan sahabat.

Klik.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

CD Album

CD Album

CD album itu kutitipkan padanya. Setengah berharap dia mengerti perasaan yang selama ini tak mampu kuungkapkan dengan kalimat. Setengah karena merasa perlu menjejalkan musik semacam ini ke telinganya yang pemilih.

“Try listening the whole album. The last song is my favorite.” Pesanku pada lembar post it di atas kotak persegi itu.

—–

Eh, gue udah dengerin satu album tuh. Lumayan juga.

Lumayan, kata lo?

Ya.. Oke lah. Kalo rajin latihan gue juga bisa bikin yang kaya gitu.

Then prove it!

Tau-tau terdengar denting gitar dari ujung telepon.

Ini bikinan gue sendiri. Buat lo. Awas kalo ketawa lo!

Mission accomplished, aku membatin.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Menunggu

Menunggu

Sepasang manusia duduk merapat di lorong koridor dua terminal bus. Bus mereka telah lama berlalu. Tidak masalah. Bukan bus yang mereka tunggu.
Sepuluh tahun yang lalu mereka mereka terakhir bertemu. Setelah setahun lamanya berbagi waktu saling menunggu bus satu sama lain saat masih berseragam putih abu-abu.
Pertemuan diawali dengan menunggu bus bersama sepulang pekan olahraga antar sekolah di wilayah sana. Yang satu kapten tim voli sekolah tamu, yang lain seksi humas sekolah tuan rumah.
Pertemuan pun diakhiri dengan menunggu. Bukan bus, melainkan perasaan satu kepada. yang lain. Yang berakhir tak terucap.
Malam ini, sekali lagi, mereka saling menunggu. Entah apa.

Posted with WordPress for TwirasBerry.