Category Archives: popcorn & soda

Cinta Itu Hal Kecil

Cinta Itu Hal Kecil

Cinta itu hal kecil…

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan utuh Pepsi yang diberikan si senior ganteng dari klub sepakbola saat antrianmu diselak senior dari klub basket.

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan box cokelat yang sudah meleleh karena ditaruh diam-diam di atas motormu yang diparkir dibawah terik matahari. Bahkan saat kamu tahu box cokelat itu dari si junior berwajah aneh.

Cinta itu hal kecil seperti menyimpan kancing yang tersisa dari perkelahian si senior ganteng dari klub sepakbola vs senior klub basket gara-gara antrian Pepsi. (Bertahun-tahun kemudian kamu baru tau kalau kancing itu bukan milik si senior ganteng ^^)

Cinta itu hal kecil seperti menanam pohon mawar putih dan mendokumentasikan pertumbuhannya. Setelah mawar putih tumbuh dan berkembang, di hari Valentine kamu mencabutnya sampai ke akar dan memberikannya ke junior berwajah-aneh-yang-kini-menjelma-cantik, tetapi dengan bodohnya kamu bilang bunga itu titipan seorang teman.

Cinta itu hal kecil seperti diam-diam memotret wajah si junior berwajah-aneh-yang-makin-hari-makin-cantik. Menyimpan tiap lembar fotonya dalam sebuah notebook. Sebelum meninggalkan kota, kamu meletakkan notebook itu di depan rumahnya.

Cinta itu hal kecil. Yang kemudian berkembang menjadi hal besar.

Setidaknya itu yang saya ‘dapat’ dari film teenage love affair ala Thailand menggemaskan berjudul Crazy Little Thing Called Love (alias A Little Thing Called Love, alias First Love).

Ceritanya seputar cinta-cintaan Nam, si junior berwajah aneh yang kemudian menjelma cantik, dan Shone, si senior ganteng dari klub sepak bola pecinta fotografi. Saling suka, saling berusaha menyatakan perasaan, saling memendam perasaan.. selama bertahun-tahun.

Sekali lagi film romantis komedi dari negeri Gajah Putih berhasil memikat perhatian saya. Mungkin karena ceritanya yang ringan, alurnya yang mengalir, karakternya yang manusiawi, komedi slapstiknya. Atau mungkin karena hal kecil seperti Mario Muarer yang gantengnya bikin saya merasa lahir terlalu cepat. :D

It’s a happy ending, by the way. 9 years later destiny meets them. Just in time, when they are all grown up, yet still keeping the sparkling feeling.

Cek juga movie traillernya di sini.

Posted with WordPress for TwirasBerry.

Finders Keepers

Finders Keepers

Tagline film The Social Network bisa jadi benar adanya.

Jangan tanya, saya gak punya 500 juta teman. :D Saya cuma punya 30-an teman yang nonton bareng film ini. Yes, sekolah yang saya hadiri (baca: kantor) dan sister company yang berbisnis di ranah digital membuka kelas tambahan tidak wajib (tapi recommended) di Blitz Megaplex, The Pacific Place Jumat malam lalu.

Lalu..  tentang apakah The Social Network ini? Tentang Facebook kah? Atau tentang Mark Zuckerberg kah? Fakta atau fiksi kah? Kalau kata si bos: “Film ini memang tentang Facebook, part of it is only fiction. But the core of this movie is actually about entrepreneurship & idea/product.”

Pernyataan si bos itu membuat saya bertanya: which part of this film is fiction?

Memang, sebelum film ini sampai di theater/auditorium di Jakarta, saya pernah membaca ‘kontroversi’ seputar keakuratan kepribadian Mark Zuckerberg yang diperankan oleh Jesse Eisenberg dalam film ini. Bisa jadi. Paling tidak dalam hal senyum, menurut tweet salah satu teman nonton bareng.

Entahlah..  just enjoy the movie.

Oia, kalau mau tau sinopsis film ini, silahkan baca di sini atau sekalian tonton trailernya di sini ya.. Don’t bother me with story telling. :D

Buat saya, film ini seperti ‘barang bukti’ bahwa terciptanya Facebook pun gak lepas dari rangkaian beberapa kejadian. Jika salah satu momen dalam rangkaian itu tidak terjadi, mungkin Facebook yang kita punya saat ini tidak persis seperti ini.

Hal ‘sekecil’ Relationship Status tercipta karena salah satu teman Mark yang numpang tanya: eh, lo tau gak si anu di kelas lo itu udah punya cowo ato belom? Dan dijawab: lah.. mana gua tau, emangnya tuh anak sehari-hari ngalungin papan pengumunan status hubungannya! Dan momen lightbulb pun terjadi. Mark buru-buru lari ke kamar asramanya dan nambahin fitur Relationship Status di halaman Profile Facebook.

Hal yang ‘lebih besar’: Facebook itu tercipta gara-gara Mark Zuckerberg diputusin Erica Albright, pacarnya saat itu.

Jadi.. gara-gara diputusin Erica, Mark ngeblog sambil setengah mabok. Terus, sebagai ‘pelampiasan’ dia bikin Facemash.com yang membanding-bandingkan foto 2 perempuan — yang diambil dari database kampus yang ‘disediakan’ Eduardo Saverin (diperankan Andrew Garfield), teman Mark satu-satunya(?). Facemash langsung dapat 22.000 pengunjung dalam 2 jam. (Saya berdoa gak ada klien yang cukup gila untuk minta jumlah fans/followers sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu. Amin.) Gara-gara Facemash, Mark kena sanksi administratif dari pihak kampus Harvard, dibenci mahasiswi di sana — khususnya yang fotonya jadi ‘korban’ Facemash, dan direkrut si kembar Winklevoss dan Divya Narendra yang sedang menggagas website Harvard Connection.

Keliwat pintar, Mark justru memanfaatkan fasilitas akses yang diberikan Winklevss dan Narendra dan menciptakan website TheFacebook bareng Eduardo. Gak pake lama, TheFacebook langsung nge-hits di Harvard dan unversitas lain. Sekali lagi, Mark jadi orang terkenal di kampus. Yang kemudian membawa ke perkenalan Mark dan Eduardo dengan Christy dan Allice. Dari Christy, yang kemudian berpacaran dengan Eduardo, mereka berkenalan dengan pendiri Napster, Sean Parker (diperankan Justin Timberlake). Kontribusi pertama Sean untuk TheFacebook semudah nyeletukin kalimat berikut:

Drop the “the”. Just “Facebook”. It’s cleaner.

Dan jangan bilang ini kebetulan yang kebetulan!

The rest is history.

Ohya, film The Social Network ini diadaptasi dari buku The Accidental Billionaires karya Ben Mezrich.  Ben juga mengarang buku Bringing Down The House, yang kemudian diadaptasi menjadi film 21 — Kevin Spacey ambil bagian sebagai produser dan aktor di film ini. Dan coba tebak peran Spacey di The Social Network.. Yes, sebagai executive producer.

Entah bagian mana dari The Social Netwotk, Facebook atau Mark Zuckerberg yang fiksi, yang pasti film ini berbagi fakta bahwa ide bisa datang dari mana saja; tapi ide saja (tanpa realisasi) gak cukup! Ingat.. Finders keepers, losers weepers.

In a Domestic Relationship

In a Domestic Relationship

Pertama kali membaca tentang Lovers of 6 Years (6-nyeonjjae yeonae-jung) dari blog post seoramg teman, saya langsung tertarik dan berniat mencari DVD film itu.

Padahal, dulu saya paling malas nonton film Korea — entah itu film lepas atau film seri. Buat saya bahasa Korea terdengar ‘ganggu’; kata-katanya seperti rajukan (jika diucapkan oleh perempuan) atau omelan (jika diucapkan oleh laki-laki). Ngintip serial Korea yang tayang di stasiun TV lokal dari warung mie bangka dekat kampus tiap Sabtu sore sudah jadi langkah besar untuk hubungan saya dengan sinema Korea. :D

Niat mencari DVD film ini sempat terlupakan, sampai akhirnya seorang teman yang lain berkicau tentang film ini dan memberi rating: ternyata-bagus-melebihi-ekspektasi.” Wow! Harus nonton nih!”

Begini ceritanya..
“Nothing special” is a keyword for Da-jin (Kim Ha-neul), a hard-working editor at a publishing company, and her boyfriend Jae-young (Yoon Gye-sang), an equally diligent home shopping producer. Six years ago, they began to date. Two years ago, they started sleeping together. Now, they are next-door neighbors, but the wall separating their houses does not have any significant function. They virtually share their rooms — and bedrooms at night. They know each other inside and out so much so that they begin to feel a bit bored, and the magical sparks and excitement is already gone. Their relationships seem to have passed a stage where something special is at work.
Maaf, modal co/pas :D

Lihat juga trailernya di sini.

Ekspektasi saya, film ini akan menghibur layaknya film-film romantic-comedy lain. Nyatanya, film ini malah seperti memotret realita kehidupan pasangan yang tinggal bersama; tentang ‘berbagi ruang’ dengan seseorang yang bertahun-tahun dicintai.

I don’t know for sure, but I think it’s better (than worse) to have someone at your side to share the good, the bad, the ugly.. even the ugliest.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Hey, you!

Hey, you!

Diiming-imingi ‘from the producer of Bangkok Traffic Love Story‘ sambil berharap sekali lagi dihibur film romantic-comedy ala Thailand, saya akhirnya menjejalkan diri ke dalam sofa auditorium Blitz Megaplex, menonton Hello Stranger (Kuan Meun Ho).

Film berdurasi 130 menit ini menggambil setting sebagian besar di Korea Selatan, maklum ceritanya si pemeran utama wanita dan pemeran utama pria sedang jalan-jalan ke sana. Si wanita (diperankan oleh Nuengtida Sopon) — yang kebetulan tergila-gila drama Korea — terbang solo untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Sementara si pria (diperankan oleh Chantawich Tanasewi) berangkat bersama kelompok tour dengan persiapan seadanya, bermodalkan pakaian yang melekat di tubuh dan tas ransel — katanya, kepalang mem-booking paket tour & travel bag tertinggal di mobil teman.

Pertemuan pertama mereka sebenarnya terjadi di bandara internasional di Bangkok, dan takdir (atau dalam hal ini, skenario) mempertemukan mereka kembali tepat di depan backpacker hostel tempat si wanita menginap. What a serendipity! Dari sana hubungan mereka berkembang dari stranger menjadi not-too-stranger; berkomunikasi tanpa perlu memperkenalkan diri — alasannya, kalau sudah kenal satu sama lain nanti mau tidak mau jadi peduli satu sama lain.. and they did not want it, yet. Selanjutnya.. seperti yang sudah kita duga sebelumnya, witing tresno jalaran soko kulino. (Eh, ini bukan bahasa Thailand loh!) Dan, layaknya tipikal film komedi romantis, ada saja halang rintang yang mewarnai cerita mereka.

Kalau mau tau romantisnya dan kocaknya cerita mereka, nonton saja sendiri (atau rame-rame) ya.. Post ini tidak bertujuan menceritakan detil plot film loh..

Ada beberapa hal yang menarik tentang Hello Stranger — selain efek ngakak yang saya alami selama film diputar. Yang pertama, sudah pasti pemandangan Korea Selatan. Walaupun bukan dream destination, kota dan khususnya objek wisata yang ditampilkan memang sedap dipandang mata. Pulau Nami (Namiseom), misalnya, yang terletak di Chuncheon, Korea Selatan — kurang lebih 2 jam perjalanan mobil dari Seoul — terlihat asri dengan hutan rimbunnya. Yang membuatnya hits tentunya drama Korea berjudul Winter Sonata yang memakai Namiseom sebagai lokasi syuting. Yang lebih edan adalah: di Namiseom bahkan ada patung Yu-jin dan Joon-sang berpelukan. (Oh, demi dewa drama Korea!) Lokasi lain — yang lagi-lagi populer gara-gara drama Korea — adalah Coffee Prince, tempat syuting drama berjudul The 1st Shop of Coffee Prince. Nah, kalau yang ini saya  ikutan penasaran seperti si pemeran wanita deh.. Bukan karena saya mengikuti serial Coffee Prince, tapi karena saya tertarik dengan desain interiornya :D

Bukan, ini bukan patung dewa Korea!

Desain interior Coffee Prince :D

Yang juga menarik (atau malah absurd) dari alur cerita Hello Stranger adalah konsistensi si wanita dan si pria untuk tidak saling bertukar nama. Bahkan sampai akhir cerita, mereka hanya dikenal sebagai May (yang adalah nama-sejuta-umat wanita Thailand) dan Darng (yang artinya kurang lebih ‘cute dog‘, karena memang si pria cenderung ‘ngintilin’ si wanita layaknya anak anjing mengekor tuannya). Jadilah mereka memanggil satu sama lain ‘Khun’ (Hey, you) yang adalah panggilan umum untuk siapapun dalam bahasa Thailand — seperti Mr., Mrs. atau Miss dalam bahasa Inggris; atau Mas dan Mbak dalam bahasa Indonesia. (Oke, Mas dan Mbak memang tepatnya panggilan dalam bahasa Jawa, tapi coba survei penduduk se-Indonesia deh, berapa persen yang memanggil dengan Mas atau Mbak?!)

Ternyata orang Thailand juga biasa bertegur sapa dengan ‘Pai nai?’ (Mau kemana?); belum tentu dengan maksud benar-benar ingin tau kemana orang yang diajak bicara mau pergi, tapi lebih sekadar ramah tamah. Hal yang sama juga berlaku untuk orang Cina/Tiongkok, yang bertegur sapa dengan ‘Zai nar?’ — seperti yang pernah diceritakan laoshi saya. Saya jadi berkesimpulan kalau ini memang etika berkomunikasi lisan versi Asia. (Atau saya terlalu cepat menyumpulkan?)

Selain akting, 'cute dog' ini juga ikut menulis skenario loh..

Fakta lain tentang Hello Stranger yang unik adalah: film ini disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun, yang lebih dikenal sebagai sineas film bergenre horor. Shutter, Alone, 4bia dan Phobia 2 adalah judul film garapannya yang tidak asing lagi bagi penggiat film horor, khususnya horor Asia.  Hello Stranger adalah film pertamanya di luar genre horor yang terinspirasi dari novel berjudul Song Ngao Nai Korea (Two Shadows in Korea). Rupanya Banjong memang tertantang untuk mengeksplorasi: Seberapa jauh seseorang dapat melakukan hal-hal diluar kebiasaanya di tempat yang asing? Dan pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada May dan Darng, tapi juga Banjong. Juga saya ;)

How far can you go?

Bukan Cerita Cinta Biasa

Bukan Cerita Cinta Biasa

Bangkok Traffic (Love) Story adalah kisah cinta dengan setting kota Bangkok modern dimana Mei Li yang berusia 30 tahun berjuang untuk menemukan cinta sejati. Ketika Mei Li tak sengaja bertemu Loong, seorang insinyur kereta cepat nan tampan yang ia anggap sebagai orang yang tepat, ia pun berencana untuk membuat langkah pertama. Meskipun rintangan terus datang menghambat langkahnya, ia tidak menyerah.

Disutradarai oleh Adisorn Tresirikasem, naskah ditulis oleh Benjamaporn Srabua, Navapol Thamrongruttanarit dan Adisorn Tresirikasem, dan diperankan oleh Sirin ‘Cris’ Horwang (Mei Li) dan Theeradej ‘Ken’ Wongpuapan (Loong), kisah komedi romantis ini menjadi film Thailand terlaris tahun 2009.

Cerita cinta klise dalam film ini semakin ‘mengena’ dengan latar belakang perempuan muda kelas menengah di kota sibuk – yang seumur itu masih numpang tinggal dengan orang tua; memudahkan penonton semacam saya untuk mengidentifikasikan diri. oops! :)

Film ini banyak mengambil set di kereta cepat ala Bangkok; tak heran, film ini memang disponsori oleh BTS Skytrain yang merayakan 10 tahun operasional pada tahun 2009.  BTS Skytrain adalah sistem transportasi cepat-massal di Bangkok yang dikelola oleh Bangkok Mass Transit System Public Company Limited (BTSC).  Sistem transportasi ini bekerja pada 2 lajur: lajur Sukhumvit dari Mo Chit ke On Nut dan lajur Silom dari National Museum ke Wongwian Yai; keduanya bertemu di Stasiun Siam.

Sesuai judulnya, Bangkok Traffic (Love) Story memperlihatkan keadaan lalu lintas Bangkok yang rupanya sebelas-dua belas dengan Jakarta.  Setelah mengalami insiden saat mengendarai mobil dan kunci mobil disita sang ayah, Mei Li terpaksa menggunakan kendaraan umum menuju dan dari kantor – yang saking jauh dan penuh perjuangan mungkin berlokasi di Mordor. :)  Jadilah Mei Li sambung menyambung naik-turun ferry, tuk-tuk dan ojek; layaknya di Jakarta, taksi bisa jadi pilihan paling berisiko bagi kelangsungan finansial.

Cerita cinta tentu tidak lengkap tanpa adegan romantis.  Dan film ini mengemas romantisme di Bangkok dengan sederhana tapi apik.  Mei Li dan Loong menghabiskan waktu bersama selama Festival Songkran.  Festival ini adalah perayaan tahun baru tradisional Thailand yang jatuh pada 13-15 April.  Selain berdoa dan membawa makanan untuk para biksu ke kuil Buddha, penduduk Thailand merayakannya dengan turun ke jalan untuk perang air yang pada mulanya bertujuan ‘memberkati’ orang yang dijadikan sasaran dengan guyuran atau tembakan air – yang kadang dicampur dengan bedak mentol.  (Air memang dikenal sebagai medium membersihkan diri di banyak perayaan adat dan budaya.)

Mei Li dan Loong juga diceritakan menyambangi beberapa tempat wisata lokal, diantaranya Bangkok Planetarium, Taksin Bridge dan Suvarnabhumi Airport.  Loong bahkan diceritakan tinggal di sebuah kontrakan di tepi sungai Chao Phraya.  hmm.. romantis to the max nih :)

Yang menarik dari Bangkok Traffic (Love) Story adalah caranya mengemas ‘kampanye wisata’ dengan lalu lintas, festival rakyat dan wisata lokal ala Bangkok lewat cerita cinta urban.  Tapiii.. yang paling menarik tentu saja si ganteng Loong! Kalau nemu yang kaya gini di Jakarta, tolong tag satu buat saya. :)

“Membaca” Jane Austen

“Membaca” Jane Austen

The Jane Austen Book Club adalah film komedi romantis yang bercerita tentang enam orang membaca dan membahas enam novel Jane Austen dalam enam bulan.

Keenam anggota klub membaca ini datang dengan cerita hidup (baca: cinta) masing-masing: Sylvia (Amy Brenneman) baru ditinggal suaminya, Daniel (Jimmy Smits), demi perempuan lain; Allegra (Maggie Grace), anak Sylvia, menjalani cinta sesama jenis; Bernadette (Kathy Baker) telah menikah enam kali; Jocelyn (Maria Bello) telah lama melajang dan hanya ditemani anjing peliharaannya; Prudie (Emily Blunt) tengah menghadapi godaan dalam perkawinannya dengan Dean (Marc Blucas); dan satu-satunya anggota pria Grigg (Hugh Dancy), penggila karya fiksi ilmiah yang belum pernah membaca Jane Austen, bergabung dengan klub ini karena tertarik pada Jocelyn.

Novel-novel Austen yang dibaca dan dibahas justru menyingkap karakter dan kisah masing-masing dan ‘mengarahkan’ langkah mereka untuk kesempatan kedua.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Karen Joy Fowler; (naskah) ditulis dan disutradarai oleh Robin Sciword.

Saya mendapatkan info ini dari sana dan dari sini.

VCD film ini saya beli secara impulsif di salah satu toko buku Gramedia, tepatnya dari sebuah keranjang diskon ;).  Sebelumnya saya pernah mendengar judul film ini, tapi tidak pernah mencari tahu tentang cerita di balik sekelompok pecinta buku Jane Austen.  Begitu juga tentang Jane Austen.

Dari sekian film bergenre komedi romantis yang sudah saya tonton, belum ada satu film yang mampu mengalahkan sang jawara klasik My Best Friend’s Wedding di teater pribadi saya.  Namun, Jane Austen Book Club pun tak akan saya pandang sebelah mata.

Karakter yang menarik perhatian saya tak lain adalah duo Jocelyn dan Grigg.  Berawal dari obrolan singkat di lift sebuah gedung; mereka bertemu kembali dan resmi berkenalan di sebuah bar.

Jocelyn: You know what I’m wondering before I go? How do you feel about older women?
Grigg: Ah, great. I have three older sisters, so I like all women.

Awalnya saya kira Jocelyn menggoda Grigg untuk kepuasannya sendiri.  Rupanya si jomblo bahagia Jocelyn berniat ‘menawarkan’ Grigg sebagai obat pelipur lara bagi Sylvia; sangat tipikal sahabat perempuan, bukan?

Sementara Grigg, yang memang dari awal terlihat tertarik kepada Jocelyn, akan melakukan apapun demi mendekati perempuan ini.

Witting tresno jalaran soko kulino, Jocelyn justru terperangkap jurus mak comblang-nya sendiri – seperti yang sudah kita duga!  Terlambat sudah, Sylvia-Grigg terlihat mulai dekat, dan Jocelyn tersiksa dengan pemandangan baru ini.  Tak heran jika selanjutnya Jocelyn bersikap dingin dan cenderung defensif terhadap Grigg, seperti tersirat dalam percakapan sengit mereka:

Griggs: What about me? Am I your friend? Or am I just some widget to help you make Sylvia feel better about herself? Why did you invite me to be part of your book club? What went through your mind the first time you saw me? “There’s a man who is dying to read every book Jane Austen ever wrote.” Is that what you thought?
Jocelyn: No.
Grigg: But I thought, “What a beautiful woman. I hope she looks over at me.” I thought if I read your favorite books that you would read mine. But, no, no, no, no… You just want to be obeyed. That’s why you have dogs.

Jocelyn: Sex is messy. Maybe Mrs. Dashwood prefers a more well-ordered life.
Grigg: Maybe that’s why she’s such a minor character.
Jocelyn: I think if you read Austen’s novels…
Grigg: Oh, I have. You wanted me to, and I did.
Jocelyn: I think you’ll see she always writes in favor of order and self-control. Nothing unwise.
Grigg: So what, this is a rulebook?

Jocelyn berusaha menyangkal perasaannya.. dan gagal!  Pria tipikal ABCDEFG – A Boy Can Do Everything For Girl – semacam Grigg mampu membobol pertahanannya dan menciptakan sebuah happy ending.  Yaayyy!

Romansa yang berakhir bahagia memang menyenangkan; tetapi wajah culun-tapi-ganteng ala Hugh Dancy, nyentrik ala sci-fi geek, muda, sehat (karena rajin bersepeda), kaya (indikasinya: tinggal di kawasan perumahan elit dan memiliki pekerjaan mapan), dan melakukan banyak hal untuk perempuan yang disukainya.. bisa jadi kombinasi yang berbahaya dalam kehidupan nyata. :)

berjuang meraih mimpi

berjuang meraih mimpi

meraih mimpi1

Dana (Gita Gutawa), terpaksa mengikuti tradisi patriarkis di kampungnya dan juga dominasi penguasa tuan tanah yang membebani keluarganya dan seluruh kampung dengan pajak tanah yang keterlaluan. Padahal sebenarnya tuan tanah Pairot, berniat mengusir warga demi membangun perhotelan dan kasino. Perjalanan Dana menjadi sangat unik ketika ia sadar bahwa hanya dengan memenangkan kompetisi beasiswa untuk melanjutakan sekolahnya, ia dapat berjuang melawan ketidakadilan ini.

Ditemani dengan binatang-binatang hutan dan Rai (Patton ‘Idola Cilik’) adiknya, Dana tidak hanya berhasil mendapatkan beasiswa, tetapi mereka juga menemukan rahasia tuan tanah akan identitasnya yang sebenarnya.

Meraih Mimpi adalah kisah anak perempuan dan keluarganya yang mencintai binatang dan lingkungan dan tak berhenti bermimpi dan berjuang.

Jenis Film : Animation/musical
Produser : Mike Wiluan
Produksi : Kalyana Shira Film
Pemain : Gita Gutawa, Patton ‘idola Cilik’, Uli Herdinansyah, Surya Saputra, Shanty, Cut Mini, Indra Bekti, Jajang C. Noer
Sutradara : Phil Mohamad Mitchell
Penulis : Philip Stamp, Nia Dinata

Sounding film animasi lokal ini memang luar biasa.  Tema positif  (judulnya saja sudah Meraih Mimpi – optimistis banget kan?!), sederet nama artis papan atas yang menjadi pengisi suara, dan keberadaan karakter hewan-hewan hutan yang menjanjikan hiburan ala Disney – semuanya memupuk ekspektasi tinggi pada penikmat film seperti saya.

Namun, benar kata orang: jangan terlalu berharap (nanti kecewa), Meraih Mimpi masih perlu berjuang untuk meraih impian penonton naif semacam saya.  Film ini secara keseluruhan baik , tetapi ada beberapa hal yang membuat saya berdecak “Nah loh, kok begini?!”.

Animasi 3D dan 2D yang ditampilkan baik, walaupun tidak sehalus sentuhan animasi besutan tanah Paman Sam – terlepas dari tangan siapa yang melakukan apa (menyadari bahwa ada anak bangsa Indonesia yang juga turut andil dalam film animasi impor seperti pada Ice Age 3 – cmiiw).   Ide cerita juga baik; sayang alur cerita terkesan buru-buru.

Momen “Nah loh, kok begini?!” yang saya maksud di atas:

  • adegan Dana dalam perjalanannya menuju gunung tempat makam leluhur desa mereka; Dana bertemu Lei – teman sekolahnya, anak pak guru, yang pada adegan sebelumnya digambarkan memendam rasa; Dana tanpa ba-bi-bu mencium pipi Lei sambil berkata semacam ‘Tenang saja Lei, aku akan baik-baik saja’ (cmiiw) >> So sweet.. tapi sepertinya adegan cium pipi ini tidak relevan; maksud saya, pesan apa yang coba disampaikan adegan ini?
  • karakter hewan-hewan hutan dengan beragam logat daerah Indonesia >> lucu memang.. tapi lagi-lagi apa relevansinya yah?

Namun, hey.. Meraih Mimpi bisa jadi awal realisasi pergerakan film animasi lokal ke pasar internasional, apalagi dengan versi Sing to the Dawn-nya.  Amin.

Come and See the Horsemen

Come and See the Horsemen

Aidan Breslin (Dennis Quaid) seorang detektif yang terganggu secara emosional karena dijauhkan dari kedua putranya setelah kematian istrinya. Saat menyelidiki sebuah pembunuhan berantai, ia menyadari bahwa ia memiliki hubungan dengan tersangka yang membunuh atas dasar empat wahyu: Perang, Kelaparan, Wabah Penyakit dan Kematian.

Produser: Brad Fuller, Michael Bay, Andrew Form
Produksi:Lionsgate
Durasi: 90 menit
Pemain: Dennis Quaid, Zhang Ziyi, Lou Taylor Pucci, Clifton Collins Jr., Chelcie Ross, Peter Stormare
Sutradara: Jonas Akerlund
Penulis: David Callaham

horsemen

Film ini menyajikan ketegangan hampir sepanjang cerita yang berdurasi 90 menit.  Keterlibatan detektif Breslin bermula dari penemuan gigi hasil cabutan paksa pada sebuah TKP; mengingat latar belakangnnya sebagai ahli forensik gigi.  Breslin kemudian ditunjuk memimpin penyelidikan kasus pembunuhan berantai yang mengakar pada kutipan Injil Wahyu bab 6, tentang penglihatan rasul Yohanes atas 4 penunggang kuda -  mewakili makna Perang, Kelaparan, Wabah Penyakit dan Kematian.  Dari supaya mencari petunjuk pada setiap kasus, Breslin perlahan menyadari kaitan antara dirinya dan keempat tersangka.
Yang menjadikan film ini menarik adalah caranya menyuguhkan drama gelap kehidupan keluarga – khususnya hubungan orangtua dan anak – ke titik ekstrim, dalam kemasan horor dan misteri.  Yang juga menarik adalah filosofi “Death is physicality, War is state of mind” yang beberapa kali ditegaskan dalam dialog antar pemeran – seolah hendak menyampaikan sesuatu ke penonton (atau perasaan saya saja?).
Dennis Quaid bukanlah nama baru di layar perak, tetapi saya tidak akan bertingkah sok tahu mengenai dia kecuali bahwa ia memerankan Aidan Breslin yang depresif dengan baik.   Zhang Ziyi bukan aktris favorit saya dan perannya sebagai Kristin Spitz tidak luar biasa.  Saya justru jatuh hati kepada Lou Taylor Pucci, pemeran Alex Breslin.  Peran Alex Breslin yang pendiam memang mencurigakan sejak awal.  Dan Lou Taylor Pucci berhasil menginterpretasikan peran si sulung yang sama depresifnya dengan sang ayah.
Saya tidak merekomendasikan film ini kepada Anda yang tidak suka dibuat tegang oleh alur cerita misteri yang cenderung mudah ditebak, Anda yang tidak suka melihat ceceran darah atau  mayat pada beberapa adegan, dan Anda yang tidak suka bila film fiksi mengakitkan diri dengan kutipan Injil atau iman kepada Kristus.  Kepada Anda yang tidak keberatan dengan hal-hal tersebut, try come and see the Horsemen.