Category Archives: resolusi

Prabu Resolusi (Bukan Nama Sebenarnya)

Prabu Resolusi (Bukan Nama Sebenarnya)

Resolusi (kb) : putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. ~kateglo.bahtera.com

Saya dulunya prabu resolusi. Dikit-dikit bikin resolusi. Sedikit yang tercapai tepat waktu. Banyak yang repost di tahun berikutnya.

Sampai pada suatu saat saya merasa tidak perlu lagi membuat resolusi (secara tertulis). Lebih karena malu membaca banyaknya tuntutan terhadap diri sendiri yang tidak bisa saya penuhi. But I still think of (and post in this blog) a few goals in my lifespan. Tanpa deadline sepertinya lebih aman.

Beberapa hari lalu, saat masih duduk terpaku di depan komputer kantor, saya memikirkan beberapa hal yang akan saya deklarasikan sebagai ‘Resolusi 2012′. Kemudian saya tersadar dari kekhilafan itu. Menyatakan resolusi rupanya masih sangat menggoda ya :D

Sejauh ini hanya satu resolusi pribadi untuk 2012 yang berani saya deklarasikan : mencetak kumpulan 100 cerita 100 kata untuk 100 orang.

Dukung saya ya.. Dengan doa, dengan reminder, dengan sindiran, dengan pecutan, dengan apapun yang ikhlas dari kamu halal buat saya :)

Saya Ngeblog Maka Saya…

Saya Ngeblog Maka Saya…

Katanya hari ini #hariblogger.
Katanya saya punya blog, maka saya adalah blogger.
Katanya saya kok gak ngeblog di #hariblogger.

Sementara, ada orang-orang yang #berkatngeblog dapat gadget atau jalan-jalan di dalam dan keluar negeri.
Ada juga yang bisa menghidupi diri dari ngeblog.
Yang lebih menarik adalah teman saya yang #berkatngeblog justru ketemu partner for life.

Saya pernah baca : Saya ngeblog maka saya ada.
Cukup provokatif.
Apalagi saya mendapati pernyataan tersebut secara parsial, tidak menyeluruh.

Sebenarnya saya mau ngomong apa sih? *gagal fokus*

Begini saja deh…

Saya pertama mengenal blog dari Friendster. Waktu itu (eh, sampe sekarang deh) gak tau yang namanya blog bisa diapain aja. Jadinya ya isi blog saya begitu-begitu saja. Tapi dari situ saya mulai suka ‘keajaiban’ bernama blog. Saya merasa mendapat ruang pribadi (bukan privat) dan gratis untuk menyatakan diri saya lewat tulisan.
Lalu mulai menjajal Blogspot dan Multiply. Sampai akhirnya bertemu WordPress. (Masih ada microblog semacam Plurk dan Twitter, dan tumblog semacam Tumblr sih…)

Kalau dulu di zaman Friendster saya ngeblog sekadar menulis, sekarang skill saya naik jadi membaca dan menulis. Mulai melihat-lihat bagaimana orang lain ngeblog. Lalu mulai ikut-ikutan konsep blog orang lain : cerita 100 kata.

Masih ingat project saya di awal tahun 2011? Yes, waktu itu saya cukup belagu memulai project 30 hari menulis cerita 100 kata. Yang kemudian gagal. (Eits, saya gak bangga ataupun malu. Cuma tau diri saja untuk mengakui ketidakberhasilan saya.)

Kali ini saya kembali menguatkan diri untuk memulai project baru “Before I Turn 30 : 100 Cerita 100 Kata Untuk 100 Orang.” <– Namanya spektakuler kan :D

Dukung saya ya.. Semoga kali ini gak gagal lagi :)

Mid-Year Resolution? Kenapa Tidak!

Mid-Year Resolution? Kenapa Tidak!

Memangnya mal saja yang bisa bikin mid-year sale :D

Momen tengah tahun memang selalu jadi saat untuk berhenti sejenak, menengok ke 6 bulan pertama yang telah berlalu, sambil merencanakan langkah untuk 6 bulan selanjutnya.

Menurut majalah More Indonesia edisi Januari 2011 yang baru saya baca beberapa hari yang lalu, ada 5 tips menuju kesaksesan resolusi tahunan.

    1. Bertanya ke diri sendiri. Apa yang mrmbuat kita bahagia. Karena resolusi harus bersumber dari diri sendiri, bukan ekspektasi orang lain atas diri kita
    2. Buat timeline resolusi. Dan catat progress-nya. Gak cuma activity plan yang pake timeline, rupanya (#baladaadmin mode)
    3. Mulai dari hal kecil. Gradually. Jangan ngoyo kalau memang terasa berat. Jika tidak memungkinkan untuk terealisasi, boleh kok menunda target waktunya
    4. Maafkan kesalahan. Lupa, bosan, atau ada hal lain yang menginterupsi? Jangan menghukum diri lantas nyerah & membatalkan resolusi. Buat backup plan & lanjut gan!
    5. Cari partner in resolution. Bisa jadi temab berbagi resolusi yang sama, atau teman yang jadi ‘polisi resolusi’ satu sama lain

Nah, sekarang napak tilas sebentar ke semester pertama 2011 yuk. Kemarin di twitter saya sempat berbagi highlight dari first half 2011, diantaranya terekam dengan hashtag #2011HT yang berarti 2011 half-time. Macam tanding bola lah..

Yang paling berkesan sepanjang Januari-Juni 2011 mungkin momen ditinggal manager tim di kantor saya pada April akhir. Dari situ saya nyaris bekerja sendirian atas nama tim, sebelum akhirnya dapat rekan kerja tandem-an di pertengahan Juni. Momen ini berkesan secara psikologis, tepatnya, karena saya – dengan segala keterbatasan daya & upaya – ditantang ‘bermain tunggal’ selama beberapa saat. Oh, well, things that don’t kill me, only make me work a little bit harder kan ;)

Kejadian berkesan berikutnya mungkin momen kalut di tengah laut seperti yang sudah saya ceritakan di sini. Momen kalut dibalut filosofi. Sudahlah. Baca saja di posting sebelumnya ya :D

Ada juga teman-teman yang berbagi cerita tentang setengah ronde pertama 2011-nya. Diantaranya..

  • “Semoga rencana saya sejalan dengan rencanaNya. So far sih iya, kecuali part of losing my dad ;(” – @rivermollie
  • “Sweet escape to Belitung on my own. The best 2 days of the mid year ever..” – @fitri_dhoy
  • “taking chances, letting love in, committing, making choices and live with the consequences. nothing new, actually” – @endihamid

(ini maksudnya mau embed tweet ke posting, eh tapi kok gak berhasil ya.. maka terimalah apa adanya, kawan ^^)

So, what’s next? Apa rencana kamu di putaran berikutnya di 2011? Apapun rencana atau resolusi kita berikutnya, semoga kita siap dengan segala preubahan & siap memperbaiki diri :)

Still Dancing

Still Dancing

are we human or are we dancers?

Biasanya, jelang pergantian umur atau pergantian tahun saya bakal repot-repot bikin daftar evaluasi dan resolusi. Mulai menyalahkan diri atas ‘keberhasilan yang tertunda’ selama setahun kemarin, dan menguatkan diri untuk memperbaiki diri setahun kedepan. Biasanya, resolusi saya berakhir sebagai wacana — no action resolution only — dan ‘terpaksa’ didaftarkan ulang ke tahun berikutnya.

Tahun ini (sejauh ini) cukup luar biasa buat saya. Bukan tanpa evaluasi dan resolusi sih — I just can’t help it — tapi paling gak ada hal-hal yang saya biarkan terjadi apa adanya tanpa perlu membebani diri dengan perencanaan setengah matang (atau bahkan well done) lengkap dengan bumbu alternatif, maupun evaluasi lengkap dengan analisis ‘mengapa begini mengapa begitu’. Bisa jadi ini tahun terjun bebas (semoga frase ini tidak berlebihan) untuk ukuran banci atur macam saya.

So, here’s a few of significant things this year:

Nekad Travelers: jalan-jalan ke 6 kota dalam 9 hari bareng partners in escape Ellie dan Fitri. Rute Jakarta-Surabaya-Bromo-Malang-Solo-Yogyakarta-Semarang-Jakarta jadi jarak tempuh terjauh selama setahun ini. Puas rasanya, walaupun banyak hal yang belum sempat saya alami selama perjalanan panjang itu.

Here comes the bride: bukan. Saya belum menikah. Not just yet. Seorang sahabat dari jaman SMU menikah dan meminta saya jadi seksi repot-nya. It was an honour. Saya yang gak ngerti apa-apa soal persiapan pernikahan jadi dapat praktek kerja lapangan wedding organizer. Paling gak, sekarang saya jadi ngerti gimana menyiapkan pernikahan dengan tata cara tradisi keturunan Cina dan agama Katolik. Ada yang berminat?

Jumper: memberanikan diri resign dari agency lama — setelah 1 tahun 3 bulan menikmati gaji lumayan, bahkan sebelum ada opsi kerja di tempat lain. Dan menikmati masa bulan pertama nganggur. Kemudian mati gaya di bulan berikutnya. Lalu ‘numpang’ ngantor di agency lain selama 1 bulan, sebelum akhirnya loncat lagi ke agency saat ini yang saya sebut sebagai sekolah digital. Big question is: akankah saya loncat lagi?

Good budgeting gone wild: seiring dengan pilihan berkarya di tempat baru, terjadi penyesuaian pada angka yang naik cetak di rekening bulanan. Umumnya penyesuaian berupa peningkatan, tapi saya kan gak selalu ambil bagian dalam mainstream. Belum lagi masa black period selama 2 bulan. Jadilah saya pinter pinter bodoh mengendalikan keuangan pribadi supaya baik jalannya. Hasilnya.. ya lumayan. Lumayan prihatin.

Selain milestone di atas, denyut kehidupan saya — di umur yang makin banyak ini — masih bergerak dalam irama poco-poco: maju dua langkah, mundur satu langkah. O well.. at least I know I’m still dancing.

Posted with WordPress for TwirasBerry.