Tag Archives: facebook

Finders Keepers

Finders Keepers

Tagline film The Social Network bisa jadi benar adanya.

Jangan tanya, saya gak punya 500 juta teman. :D Saya cuma punya 30-an teman yang nonton bareng film ini. Yes, sekolah yang saya hadiri (baca: kantor) dan sister company yang berbisnis di ranah digital membuka kelas tambahan tidak wajib (tapi recommended) di Blitz Megaplex, The Pacific Place Jumat malam lalu.

Lalu..  tentang apakah The Social Network ini? Tentang Facebook kah? Atau tentang Mark Zuckerberg kah? Fakta atau fiksi kah? Kalau kata si bos: “Film ini memang tentang Facebook, part of it is only fiction. But the core of this movie is actually about entrepreneurship & idea/product.”

Pernyataan si bos itu membuat saya bertanya: which part of this film is fiction?

Memang, sebelum film ini sampai di theater/auditorium di Jakarta, saya pernah membaca ‘kontroversi’ seputar keakuratan kepribadian Mark Zuckerberg yang diperankan oleh Jesse Eisenberg dalam film ini. Bisa jadi. Paling tidak dalam hal senyum, menurut tweet salah satu teman nonton bareng.

Entahlah..  just enjoy the movie.

Oia, kalau mau tau sinopsis film ini, silahkan baca di sini atau sekalian tonton trailernya di sini ya.. Don’t bother me with story telling. :D

Buat saya, film ini seperti ‘barang bukti’ bahwa terciptanya Facebook pun gak lepas dari rangkaian beberapa kejadian. Jika salah satu momen dalam rangkaian itu tidak terjadi, mungkin Facebook yang kita punya saat ini tidak persis seperti ini.

Hal ‘sekecil’ Relationship Status tercipta karena salah satu teman Mark yang numpang tanya: eh, lo tau gak si anu di kelas lo itu udah punya cowo ato belom? Dan dijawab: lah.. mana gua tau, emangnya tuh anak sehari-hari ngalungin papan pengumunan status hubungannya! Dan momen lightbulb pun terjadi. Mark buru-buru lari ke kamar asramanya dan nambahin fitur Relationship Status di halaman Profile Facebook.

Hal yang ‘lebih besar’: Facebook itu tercipta gara-gara Mark Zuckerberg diputusin Erica Albright, pacarnya saat itu.

Jadi.. gara-gara diputusin Erica, Mark ngeblog sambil setengah mabok. Terus, sebagai ‘pelampiasan’ dia bikin Facemash.com yang membanding-bandingkan foto 2 perempuan — yang diambil dari database kampus yang ‘disediakan’ Eduardo Saverin (diperankan Andrew Garfield), teman Mark satu-satunya(?). Facemash langsung dapat 22.000 pengunjung dalam 2 jam. (Saya berdoa gak ada klien yang cukup gila untuk minta jumlah fans/followers sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu. Amin.) Gara-gara Facemash, Mark kena sanksi administratif dari pihak kampus Harvard, dibenci mahasiswi di sana — khususnya yang fotonya jadi ‘korban’ Facemash, dan direkrut si kembar Winklevoss dan Divya Narendra yang sedang menggagas website Harvard Connection.

Keliwat pintar, Mark justru memanfaatkan fasilitas akses yang diberikan Winklevss dan Narendra dan menciptakan website TheFacebook bareng Eduardo. Gak pake lama, TheFacebook langsung nge-hits di Harvard dan unversitas lain. Sekali lagi, Mark jadi orang terkenal di kampus. Yang kemudian membawa ke perkenalan Mark dan Eduardo dengan Christy dan Allice. Dari Christy, yang kemudian berpacaran dengan Eduardo, mereka berkenalan dengan pendiri Napster, Sean Parker (diperankan Justin Timberlake). Kontribusi pertama Sean untuk TheFacebook semudah nyeletukin kalimat berikut:

Drop the “the”. Just “Facebook”. It’s cleaner.

Dan jangan bilang ini kebetulan yang kebetulan!

The rest is history.

Ohya, film The Social Network ini diadaptasi dari buku The Accidental Billionaires karya Ben Mezrich.  Ben juga mengarang buku Bringing Down The House, yang kemudian diadaptasi menjadi film 21 — Kevin Spacey ambil bagian sebagai produser dan aktor di film ini. Dan coba tebak peran Spacey di The Social Network.. Yes, sebagai executive producer.

Entah bagian mana dari The Social Netwotk, Facebook atau Mark Zuckerberg yang fiksi, yang pasti film ini berbagi fakta bahwa ide bisa datang dari mana saja; tapi ide saja (tanpa realisasi) gak cukup! Ingat.. Finders keepers, losers weepers.

Kedai Kopi Pak Maknyus

Kedai Kopi Pak Maknyus

Sudah beberapa kali saya menyambangi kedai kopi di bilangan Jalan Sabang ini, dan saya masih penasaran.

Kopitiam Oey didirikan oleh Pak Bondan Winarno, host programWisata Kuliner di TransTV, sekaligus pengasuh komunitas JalanSutra.  Nama Kopitiam berasal dari kata ‘kafe tien’ yang dalam dialek Hokkien berarti ‘warung kopi’; sedangkan nama Oey kurang lebih hasil terjemahan Hokkien bebas untuk sukukata Wi dari Winarno.

Menyempil di Jl. H. Agus Salim No.19, kedai kopi ini tampil dengan interior khas tempoe doeloe; dengan meja marmer berkaki kayu dan kursi kayu pasangannya.  Semakin menguatkan kesan klasik adalah parade kliping iklan cetak jaman dulu di dinding.  Dapur Kopitiam Oey di Sabang berkonsep semi-open kitchen – kalau tidak dapat disebut open kitchen – dengan sebuah rak kayu tempat menaruh peralatan makan-minum berfungsi sebagai partisi ruang.

parade kliping iklan cetak

rak partisi ruang

Paling membuat saya penasaran tentunya menu.  Dan ekspektasi saya tinggi atas tempat makan milik penggiat kuliner yang terkenal dengan tagline ‘maknyus’-nya.

Sesuai hakikatnya sebagai kedai kopi, Kopitiam Oey menyajikan beberapa varian minuman kopi dengan nama-nama sederhana (lupakan sejenak istilah caffe latte, frappucino, macchiato), diantaranya: kopi tubruk Djawa, kopi saring atau Kopi-O, kopi susu Indocina, es kopi Sisiliana dan Wiener Melange.  Jagoan saya: es kopi susu Indocina dan Wiener Melange.  Es kopi susu Indocina adalah kopi ala Vientam berupa seduhan kopi dalam saring yang dibiarkan menetes dan bercampur dengan susu kental manis.  Wiener Melange menyatukan kopi hitam dengan es krim vanila.

ijs kopi soesoe Indotjina

Wiener Melange

Selain kopi, kedai ini juga menyajikan variasi minuman teh – termasuk diantaranya wedang uwuh Imogiri, jus + es soda, Milo Dinosaurus, dan es cingcau.  Menu makanan dibagi menjadi 4 kategori: sarapan, santap siang, kudapan dan santap malam.  Kecuali variasi roti pada menu sarapan dan kudapan, pilihan makanan masing-masing kategori hanya tersedia sesuai waktu bersantap.  Jangan harap Anda mendapatkan bubur kambing Pekalongan di malam hari!

Strategi ini bisa jadi efektif, karena konsumen diajak untuk datang setidaknya pada tiga kesempatan berbeda (baca: pagi, siang dan malam) untuk dapat mencicipi menu yang berbeda.  Ini pula yang membuat saya tetap penasaran.

Sejauh yang telah saya cicipi, makanan yang disajikan tidak dapat disebut istimewa.  Tampilan dan rasa sedang-sedang saja.  Harga juga. :)  Dari belasan menu makanan dan kudapan, roti telur Bukittinggi meninggalkan kesan istimewa (karena jarang ditawarkan di tempat makan lain), sementara panini roast beef + mozzarella mendapat acungan jempol dari teman-teman saya.

Setahun lebih menyajikan kopi dan menu lainnya, Kopitiam Oey kini telah memiliki 3 gerai.  Gerai kedua berlokasi di Jalan Legian, Kuta – Bali; dan gerai ketiga – yang dibuka baru-baru ini – terletak di Sektor VII, Bintaro (belakang RSI Bintaro).

Mengikuti perkembangan media sosial, Kopitiam Oey juga hadir secara virtual lewat akun Facebook dan akun Twitter, selain laman resmi mereka.  Sayang ketiga alamat virtual ini kurang diberdayakan secara aktif.

Jaga Status

Jaga Status

Salah satu program/aplikasi yang wajib saya buka setiap kali terkoneksi dengan internet adalah Yahoo! Messenger.  Sebenarnya tak ada yang mewajibkan, hanya saja saya merasa ingin dan perlu terhubung dengan orang lain selama berada dalam jaringan.

Yang paling menarik dari Y!M adalah status message yang secara sadar dipasang oleh si empunya akun.  Saat mulai menulis ini, misalnya, status yang dikumandangkan di jejaring Y!M saya antara lain menyuarakan perasaaan lahir/batin saat ini (“Sleepyhead”, “Fiuuuhhh”, “lelah”, “Saya sakit kepala”, “ndase mumet”); atau pernyataan tentang sesuatu yang lebih dalam – atau luas (“Insyaallah…”, “I never find someone like you”, “nobody could love you more than i do”, “Peace is not something you wish for..”, “Life is beautiful”).

Yang lain menautkan status mereka dengan akun My Yahoo!, twitter, atau ke music player.

Lain lagi status di facebook atau twitter; yang lebih dinamis, berubah dalam hitungan menit – bahkan detik.

Sepertinya status lebih dari sekadar kata, frase atau kalimat yang menggambarkan perasaan/pikiran si penulis, lebih dari sekadar cermin yang memperlihatkan diri si penulis – you are what you say (about yourself), lebih dari sekadar ‘mantra’ yang dituliskan untuk orang lain – terlebih untuk diri sendiri; status bisa jadi ‘kaca pembesar’ untuk pesan yang disampaikan.

Baguslah kalau status itu berisi pesan yang baik.  Tapi, bagaimana kalau berisi pesan yang kurang baik – keluhan, umpatan, sumpah serapah?  Jangan-jangan efek sampingnya saya justru menggandakan ke-negatif-an itu.

Saat saya mengupdate status menjadi ‘merambang-rambang‘ setelah pertama kali mendengar kata itu dari siaran radio dan berpikir “Keren juga nih kosakata baru! Kayanya pas sama isi hati/kepala”, jangan-jangan saya justru mendoakan diri sendiri agar terus merambang-rambang?  Jangan sampai, deh!  (Walaupun tidak ada yang salah dengan hal itu.)  Cepat-cepat saya hapus status itu, sebelum dia justru menjadi bumerang.  (Saya tidak mau selamanya ‘tanpa tujuan tertentu’.)

Saya malah jadi berhati-hati dalam mencantumkan status.  Pada saat mengatakan ini pun, saya merasa aneh: kenapa juga urusan status jadi berlebihan seperti ini?  Jawabannya: saya bisa saja (berusaha) tidak peduli akan komentar orang lain, tapi belum tentu saya berhasil ‘lolos’ melalui komentar dari diri sendiri – I am my worst enemy.

Suatu hari saya mengutip Eleven Minutes karya Paulo Coelho: “everything tells me that I am about to make a wrong decision” (Lengkapnya: “Everything tells me that I am about to make a wrong decision, but making mistakes is just part of life. What does the world want of me? Does it want me to take no risks, to go back to where I came from because I didn’t have the courage to say “yes” to life?”).  Seorang teman lama jadi bertanya-tanya:

czarc (12/7/2009 3:29:03 PM): hi there
twiras (12/7/2009 3:29:23 PM): hi czar
czarc (12/7/2009 3:29:28 PM): how u doing
twiras (12/7/2009 3:29:29 PM): long time
czarc (12/7/2009 3:29:34 PM): long time no hear
czarc (12/7/2009 3:29:36 PM): :)
czarc (12/7/2009 3:29:44 PM): how is it going
twiras (12/7/2009 3:31:30 PM): things r going up and down here
twiras (12/7/2009 3:31:35 PM): how bout u?
czarc (12/7/2009 3:31:42 PM): saw your ym title just now
czarc (12/7/2009 3:31:54 PM): mind sharing with me

Dia kira saya sedang bergelut dengan suatu masalah.  (Faktanya, siapa sih yang tidak dihadapkan dengan masalah? Dan ‘masalah’ di sini bermakna ‘sesuatu yang harus diselesaikan’.)  Saya jelaskan bahwa itu hanya kutipan dari buku.  Dia sepertinya menerima penjelasan itu.  Saya tidak.  Percakapan beralih ke topik lain.  Pikiran saya ‘nyangkut’ di topik status tadi.  Saya bahkan tidak percaya dengan penjelasan itu.  Pada waktu menuliskan kutipan tadi, saya merasa biasa saja.  Memang, saya sedang mempertimbangkan kalau-kalau pilihan yang saya ambil salah.  Dan kalimat itu mewakili kekhawatiran saya secara ‘artistik’.  Tetapi, saat kalimat itu memantul balik ke arah saya, efek gaungnya justru membuat saya semakin tidak tenang.

“everything tells me that I am about to make a wrong decision”

“everything tells you that you are about to make a wrong decision”

“you are about to make a wrong decision”

“to make a wrong decision”

“a wrong decision”

(Hahaha..  Gawat! Saya suka efek dramatisir ini.)

Singkat kata, kekhawatiran itu malah jadi berpangkat dua.  Berlipat ganda.  Memperbesar diri.  Dan itu tidak baik buat saya.

Lalu, bagaimana dengan status dengan kandungan pesan positif?

Nah, sepertinya lebih sulit diukur.  Seingat saya belum ada satu status message yang memberi efek double-the-fun.  Lebih mudah memancing respon orang lain dengan gelagat mengarah negatif daripada dengan gelagat mengarah positif, sepertinya.  Maksud saya, respon yang tulus.. bukan sekadar respon for-the-sake-of-commenting.  Although, I do take pleasure on others retweeting mine or giving me a thumb under my fb status update.  Jarang-jarang nih. :D

Saya ingin menjaga status (karena jaga imej sepertinya sudah kuno) supaya orang-orang – termasuk terlebih diri saya sendiri – tidak sakit mata, apalagi sakit pikiran dan sakit hati membaca kata, frasa atau kalimat yang saya sorakkan ke jagat maya.  Syukur-syukur bisa menyemangati.

Hey.. this is me.  What about you?

Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Tak perlu lagi memohon “Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi, hanya untuk bersamanya” seperti The Virgin, kejadian akhir-akhir ini membuatku semakin yakin kalau Tuhan memang memberikan kesempatan kedua (ketiga, keempat, ke-tidak-terhingga) kepada umatNya – yang mau mengambilnya.

Kesempatan 2.1 Beta Version

Kunobatkan Mark Zuckerberg menjadi Bapak Reuni Dunia Maya!   Betapa tidak, berkat Facebook aku bertemu kembali dengan nama-nama yang tidak asing; mereka yang pernah berbagi fotokopi lembar-lembar materi kuliah; lebih jadul lagi, mereka yang pernah berbagi ruang dan waktu pada upacara penaikan bendera setiap Senin pagi dan Tujuh Belasan – lengkap dengan seragam kebanggan.

Di antara sekian nama yang telah ku-add dan mereka confirm, ada satu nama yang memberi efek berstruktur: wah-sudah-lama-sekali-tidak-bertemu\dulu-kami-pernah-dekat\aku-tidak-ingat-entah-mengapa-dulu-kami-menjauh\apa-kabar-dia-sekarang\apa-mungkin-kami-bisa-berteman-dekat-lagi. Aku ingat pernah dekat dengannya saat kami masih berseragam putih-biru; dengan kombinasi  putih-kotak.  Selebihnya – seberapa dekat kami, kejadian apa yang memisahkan kami, bagaimana perasaanku sesaat setelah kami jauh – aku tidak ingat pasti.  Yang pasti, aku menyesal kemudian, mengingat persahabatan kami yang tidak tahan lama.

Sampai satu hari aku berhadapan dengannya sekali lagi.  Dan segala efek berstruktur, pertanyaan dan penyesalan tadi seketika larut layaknya tablet paracetamol yang kumakan saat sakit kepala menghantam; meninggalkan hanya rasa tenang.  Aku tidak perlu lagi khawatir akankah kami bisa mengulang persahabatan yang pernah terjalin; kami tidak mengulang, kami melanjutkan.  Kami memang berhutang belasan tahun tanpa komunikasi, dan saat ini tengah menebusnya.  Aku bahkan baru menyadari kalau kami berbagi kesenangan/keanehan yang sama.

Kesempatan 2.2 Pro

Kesempatan kedua denganya terjadi beberapa tahun yang lalu dalam sebuah reuni kecil.  Aku mengingatnya sebagai salah satu bocah bengal di sekolah.  Ingatanku (yang kini telah terbukti tidak maksimal) harus menyesuaikan diri dengan kenyataan di depan mata: dia telah berkembang menjadi sosok dewasa dan cenderung pendiam – walaupun masih menyisakan wajah nakal khas-nya.   Penyesuaian ini tidak hanya berlangsung di mata.. pssttt, diam-diam aku jatuh hati pikiran.

Baru belakangan telingaku mendengar kalau dia tengah menjalin hubungan dengan seseorang.   Oh, kasih tak sampai!  Menjadi prajurit kalah perang, aku mundur teratur sambil menata hati pikiran agar tetap jernih.

Pada kesempatan kedua (bagian dua), dia dan perempuan pilihannya telah saling mengikat janji pernikahan; aku melihatnya di tengah keramaian dan berlalu.  Kemudian aku merasa bodoh; mengapa harus enggan menyapanya, padahal kesempatan tidak-sengaja-bertemu sangat langka.

Pada kesempatan kedua (bagian tiga), aku berpapasan lagi dengannya, tepat di tengah keramaian yang sama, dan hampir mengulangi perasaan bodoh yang sama.  Awalnya aku berniat melewatkan kesempatanku menyapanya, sekali lagi; aku berjalan melawan arahnya.  Namun, Tuhan memang memberi kesempatan tidak terhingga; dalam perjalananku memutar balik arah, sekali lagi aku dihadapkan dengannya.  Kali itu aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan berkali-kali.  Aku menyapanya.  Dan merasa menang sesudahnya.  (Tidak.. aku tetap ‘kalah’ melawan perempuan pilihannya itu; tetapi aku ‘menang’ melawan diriku sendiri yang sebelumnya tidak berani mengambil kesempatan)