Tag Archives: seleksi alam

take me out.. or better not

take me out.. or better not

Pernah menonton Take Me Out atau Take Him Out versi Indonesia di Indosiar?

Singkat kata, acara yang dipandu oleh Choky Sitohang ini adalah kuis cari jodoh, yang memfasilitasi seorang pria lajang dipilih dan memilih seorang wanita lajang dari sekian banyak kandidat, dan sebaliknya.

Waktu pertama kali menonton acara ini saya terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala, berpikir: ada-ada aja nih acara!  Sempat terpikir kalau acara ini memang telah dirangkai sedemikian rupa menggunakan jasa para talent yang memang langganan acara reality show lainnya, setidaknya pada episode awal.  Entah bagaimana kebenarannya (?).

Menurut saya acara ini telah berhasil merebut perhatian pemirsa televisi, dengan keunikannya.  Unik, melihat segala tingkah laku peserta yang sedang mencari, yang menjual diri dengan kata-kata, nyanyian, tarian, sulap, akrobat dan cara-cara halal lainnya.  Unik, melihat aksi para kandidat dengan segala kriteria, pengalaman bercinta dan kampanye ‘pilih aku’ mereka.  Unik, dengan ‘bumbu penyedap’ ramalan cinta dari paranormalwati dan wejangan dari ustadz cinta.  Unik, dalam hal mengundang opini negatif dari penonton yang menilai acara ini palsu dan tidak penting, dan (terlebih) para pesertanya terkesan jomblo-cenderung-menyedihkan.

Namun, begitulah realita, bukan?  Maksud saya, dalam kehidupan di luar layar kaca pun kita akan mengalami hal semacam kuis cari jodoh ini – walaupun tidak se-gamblang itu.. dan tidak pula dipandu MC :D.  Saya si peserta yang sedang mencari.  Di hadapan saya ada entah-berapa-banyak kandidat potensial.  Kemudian terjadi seleksi alam.  Pertama kali saya menunjukkan diri, akan ada kandidat yang segera memberikan lampu merah kepada saya, bahkan sebelum saya memperkenalkan diri.  Setelah saya memperkenalkan diri lebih lanjut – lewat perkataan, tindakan, pemikiran – akan ada kandidat yang bertahan dan yang mengundurkan diri.  Pada tahap seleksi akhir, yang tertinggal hanya beberapa kandidat yang menunjukkan minat untuk mengenal saya lebih lanjut.  Nah, pada saat itu lah saya dapat memilih satu di antara sekian.. atau tidak memilih sama sekali, alih-alih memulai ronde baru pencarian jodoh.  That’s reality, right.  Or it is just my wishful thinking?  Entah.

holding hands