Salah satu program/aplikasi yang wajib saya buka setiap kali terkoneksi dengan internet adalah Yahoo! Messenger. Sebenarnya tak ada yang mewajibkan, hanya saja saya merasa ingin dan perlu terhubung dengan orang lain selama berada dalam jaringan.
Yang paling menarik dari Y!M adalah status message yang secara sadar dipasang oleh si empunya akun. Saat mulai menulis ini, misalnya, status yang dikumandangkan di jejaring Y!M saya antara lain menyuarakan perasaaan lahir/batin saat ini (“Sleepyhead”, “Fiuuuhhh”, “lelah”, “Saya sakit kepala”, “ndase mumet”); atau pernyataan tentang sesuatu yang lebih dalam – atau luas (“Insyaallah…”, “I never find someone like you”, “nobody could love you more than i do”, “Peace is not something you wish for..”, “Life is beautiful”).
Yang lain menautkan status mereka dengan akun My Yahoo!, twitter, atau ke music player.
Lain lagi status di facebook atau twitter; yang lebih dinamis, berubah dalam hitungan menit – bahkan detik.
Sepertinya status lebih dari sekadar kata, frase atau kalimat yang menggambarkan perasaan/pikiran si penulis, lebih dari sekadar cermin yang memperlihatkan diri si penulis – you are what you say (about yourself), lebih dari sekadar ‘mantra’ yang dituliskan untuk orang lain – terlebih untuk diri sendiri; status bisa jadi ‘kaca pembesar’ untuk pesan yang disampaikan.
Baguslah kalau status itu berisi pesan yang baik. Tapi, bagaimana kalau berisi pesan yang kurang baik – keluhan, umpatan, sumpah serapah? Jangan-jangan efek sampingnya saya justru menggandakan ke-negatif-an itu.
Saat saya mengupdate status menjadi ‘merambang-rambang‘ setelah pertama kali mendengar kata itu dari siaran radio dan berpikir “Keren juga nih kosakata baru! Kayanya pas sama isi hati/kepala”, jangan-jangan saya justru mendoakan diri sendiri agar terus merambang-rambang? Jangan sampai, deh! (Walaupun tidak ada yang salah dengan hal itu.) Cepat-cepat saya hapus status itu, sebelum dia justru menjadi bumerang. (Saya tidak mau selamanya ‘tanpa tujuan tertentu’.)
Saya malah jadi berhati-hati dalam mencantumkan status. Pada saat mengatakan ini pun, saya merasa aneh: kenapa juga urusan status jadi berlebihan seperti ini? Jawabannya: saya bisa saja (berusaha) tidak peduli akan komentar orang lain, tapi belum tentu saya berhasil ‘lolos’ melalui komentar dari diri sendiri – I am my worst enemy.
Suatu hari saya mengutip Eleven Minutes karya Paulo Coelho: “everything tells me that I am about to make a wrong decision” (Lengkapnya: “Everything tells me that I am about to make a wrong decision, but making mistakes is just part of life. What does the world want of me? Does it want me to take no risks, to go back to where I came from because I didn’t have the courage to say “yes” to life?”). Seorang teman lama jadi bertanya-tanya:
czarc (12/7/2009 3:29:03 PM): hi there
twiras (12/7/2009 3:29:23 PM): hi czar
czarc (12/7/2009 3:29:28 PM): how u doing
twiras (12/7/2009 3:29:29 PM): long time
czarc (12/7/2009 3:29:34 PM): long time no hear
czarc (12/7/2009 3:29:36 PM): :)
czarc (12/7/2009 3:29:44 PM): how is it going
twiras (12/7/2009 3:31:30 PM): things r going up and down here
twiras (12/7/2009 3:31:35 PM): how bout u?
czarc (12/7/2009 3:31:42 PM): saw your ym title just now
czarc (12/7/2009 3:31:54 PM): mind sharing with me
Dia kira saya sedang bergelut dengan suatu masalah. (Faktanya, siapa sih yang tidak dihadapkan dengan masalah? Dan ‘masalah’ di sini bermakna ‘sesuatu yang harus diselesaikan’.) Saya jelaskan bahwa itu hanya kutipan dari buku. Dia sepertinya menerima penjelasan itu. Saya tidak. Percakapan beralih ke topik lain. Pikiran saya ‘nyangkut’ di topik status tadi. Saya bahkan tidak percaya dengan penjelasan itu. Pada waktu menuliskan kutipan tadi, saya merasa biasa saja. Memang, saya sedang mempertimbangkan kalau-kalau pilihan yang saya ambil salah. Dan kalimat itu mewakili kekhawatiran saya secara ‘artistik’. Tetapi, saat kalimat itu memantul balik ke arah saya, efek gaungnya justru membuat saya semakin tidak tenang.
“everything tells me that I am about to make a wrong decision”
“everything tells you that you are about to make a wrong decision”
“you are about to make a wrong decision”
“to make a wrong decision”
“a wrong decision”
(Hahaha.. Gawat! Saya suka efek dramatisir ini.)
Singkat kata, kekhawatiran itu malah jadi berpangkat dua. Berlipat ganda. Memperbesar diri. Dan itu tidak baik buat saya.
Lalu, bagaimana dengan status dengan kandungan pesan positif?
Nah, sepertinya lebih sulit diukur. Seingat saya belum ada satu status message yang memberi efek double-the-fun. Lebih mudah memancing respon orang lain dengan gelagat mengarah negatif daripada dengan gelagat mengarah positif, sepertinya. Maksud saya, respon yang tulus.. bukan sekadar respon for-the-sake-of-commenting. Although, I do take pleasure on others retweeting mine or giving me a thumb under my fb status update. Jarang-jarang nih. :D
Saya ingin menjaga status (karena jaga imej sepertinya sudah kuno) supaya orang-orang – termasuk terlebih diri saya sendiri – tidak sakit mata, apalagi sakit pikiran dan sakit hati membaca kata, frasa atau kalimat yang saya sorakkan ke jagat maya. Syukur-syukur bisa menyemangati.
Hey.. this is me. What about you?


