Tag Archives: twitter

Mengenang #mei98

Mengenang #mei98

Jelang siang hari ini, #mei98 jadi topic (yang sayangnya tidak trending) di jagat twitter, setidaknya di antara user lokal.

Sebagai salah satu individu yang terkena efek teror kerusuhan Mei 1998, saya masih menyimpan arsip rekaman pikiran dan perasaan terhadap kejadian itu dalam memori.

Kerusuhan Mei 1998 sendiri adalah catatan hitam yang membayangi Tragedi Trisakti, sekaligus menjadi harga yang mahal untuk sebuah kemewahan berlabel Reformasi.

Saat itu saya duduk di kelas 3 SMP.  Saya baru menyelesaikan ujian akhir, tepat di hari terakhir pekan ujian nasional duabelas tahun yang lalu.  (teman-teman SMP BHK 1995-1998 tolong koreksi kalau salah, memori saya agak corrupt di bagian ini)  Saya dijemput oleh si Papa yang membawa sebuah senjata (entah pentungan, double-stick atau senapan angin) untuk jaga-jaga.  Sekolah saya berada di salah satu sisi Jl. Daan Mogot, hanya beberapa ratus meter dari perempatan Grogol – TKP demonstrasi mahasiswa Trisakti.  Kami berjalan kaki pulang.  Dan saya ingat perasaan takut yang menguasai.  Pada saat itu saya bahkan belum melihat tayangan berita di tv.  Akses masuk ke area Jelambar dari Jl. Hadiah sudah ditutup dan dijaga para petugas keamanan dan relawan setempat.  Kehadiran mereka memberi sedikit rasa aman, mengingat kediaman saya yang berjarak kurang lebih 1 km dari pintu itu.

Di sekitar rumah, para pria dewasa juga berjaga mengamankan parameter lingkup RT dan RW masing-masing.  Pada hari-hari itu mereka terlihat bak ‘jagoan’ dalam keserhanaan mereka.

Lain lagi cerita kakak saya.  Saya ingat si Koko bercerita kalau dalam perjalan pulang mengendarai motor melewati Jl. Daan Mogot yang sudah ramai oleh massa yang rusuh menjarah, membakar dan melempar, ia diteriaki ‘Cina’.  Dalam konteks diskriminasi.

Saya ingat saat itu berpikir: mungkin hidup lebih mudah kalau kita bukan keturunan Cina.  Dan saya yakin, bukan hanya saya yang berpikir demikian.  Lama setelah Kerusuhan Mei berlalu pun kita masih bisa melihat toko-toko yang ditandai ‘Milik Pribumi’, terlepas dari fakta bahwa pemiliknya ‘pribumi’ atau keturunan Cina.  Tapi, hey, keturunan Cina kan juga pribumi di tanah Indonesia.

Ini mengingatkan saya pada makna Paskah dalam Perjanjian Lama, dimana Tuhan akan lewat menghabisi anak sulung pada tiap-tiap rumah, kecuali yang ditandai dengan darah anak domba.  Hanya saja saat itu bukan Tuhan, melainkan setan dalam diri manusia yang lewat dan menjebol paksa pintu yang tidak ditandai; merampas harta benda, merusak, memperkosa dan membunuh.  Penjarahan, perusakan dan pembunuhan memang terbukti nyata, tapi pemerkosaan memunculkan pro dan kontra, dan terdengar seperti urban legend.  Entahlah.  Manusia mungkin lupa, tapi Tuhan pasti ingat.

Yang jelas kejadian pada hari-hari itu meninggalkan kenangan tidak manis bagi anak bangsa – keturunan Cina, keturunan Arab, keturunan bule, keturunan Jawa, keturunan Betawi, keturunan anak bumi Indonesia – yang mengalami, melihat, menyaksikan, mendengar, merasakan, memikirkan, merenungkan.. atau yang cukup peduli untuk mengenang #mei98.

Kedai Kopi Pak Maknyus

Kedai Kopi Pak Maknyus

Sudah beberapa kali saya menyambangi kedai kopi di bilangan Jalan Sabang ini, dan saya masih penasaran.

Kopitiam Oey didirikan oleh Pak Bondan Winarno, host programWisata Kuliner di TransTV, sekaligus pengasuh komunitas JalanSutra.  Nama Kopitiam berasal dari kata ‘kafe tien’ yang dalam dialek Hokkien berarti ‘warung kopi’; sedangkan nama Oey kurang lebih hasil terjemahan Hokkien bebas untuk sukukata Wi dari Winarno.

Menyempil di Jl. H. Agus Salim No.19, kedai kopi ini tampil dengan interior khas tempoe doeloe; dengan meja marmer berkaki kayu dan kursi kayu pasangannya.  Semakin menguatkan kesan klasik adalah parade kliping iklan cetak jaman dulu di dinding.  Dapur Kopitiam Oey di Sabang berkonsep semi-open kitchen – kalau tidak dapat disebut open kitchen – dengan sebuah rak kayu tempat menaruh peralatan makan-minum berfungsi sebagai partisi ruang.

parade kliping iklan cetak

rak partisi ruang

Paling membuat saya penasaran tentunya menu.  Dan ekspektasi saya tinggi atas tempat makan milik penggiat kuliner yang terkenal dengan tagline ‘maknyus’-nya.

Sesuai hakikatnya sebagai kedai kopi, Kopitiam Oey menyajikan beberapa varian minuman kopi dengan nama-nama sederhana (lupakan sejenak istilah caffe latte, frappucino, macchiato), diantaranya: kopi tubruk Djawa, kopi saring atau Kopi-O, kopi susu Indocina, es kopi Sisiliana dan Wiener Melange.  Jagoan saya: es kopi susu Indocina dan Wiener Melange.  Es kopi susu Indocina adalah kopi ala Vientam berupa seduhan kopi dalam saring yang dibiarkan menetes dan bercampur dengan susu kental manis.  Wiener Melange menyatukan kopi hitam dengan es krim vanila.

ijs kopi soesoe Indotjina

Wiener Melange

Selain kopi, kedai ini juga menyajikan variasi minuman teh – termasuk diantaranya wedang uwuh Imogiri, jus + es soda, Milo Dinosaurus, dan es cingcau.  Menu makanan dibagi menjadi 4 kategori: sarapan, santap siang, kudapan dan santap malam.  Kecuali variasi roti pada menu sarapan dan kudapan, pilihan makanan masing-masing kategori hanya tersedia sesuai waktu bersantap.  Jangan harap Anda mendapatkan bubur kambing Pekalongan di malam hari!

Strategi ini bisa jadi efektif, karena konsumen diajak untuk datang setidaknya pada tiga kesempatan berbeda (baca: pagi, siang dan malam) untuk dapat mencicipi menu yang berbeda.  Ini pula yang membuat saya tetap penasaran.

Sejauh yang telah saya cicipi, makanan yang disajikan tidak dapat disebut istimewa.  Tampilan dan rasa sedang-sedang saja.  Harga juga. :)  Dari belasan menu makanan dan kudapan, roti telur Bukittinggi meninggalkan kesan istimewa (karena jarang ditawarkan di tempat makan lain), sementara panini roast beef + mozzarella mendapat acungan jempol dari teman-teman saya.

Setahun lebih menyajikan kopi dan menu lainnya, Kopitiam Oey kini telah memiliki 3 gerai.  Gerai kedua berlokasi di Jalan Legian, Kuta – Bali; dan gerai ketiga – yang dibuka baru-baru ini – terletak di Sektor VII, Bintaro (belakang RSI Bintaro).

Mengikuti perkembangan media sosial, Kopitiam Oey juga hadir secara virtual lewat akun Facebook dan akun Twitter, selain laman resmi mereka.  Sayang ketiga alamat virtual ini kurang diberdayakan secara aktif.

Jaga Status

Jaga Status

Salah satu program/aplikasi yang wajib saya buka setiap kali terkoneksi dengan internet adalah Yahoo! Messenger.  Sebenarnya tak ada yang mewajibkan, hanya saja saya merasa ingin dan perlu terhubung dengan orang lain selama berada dalam jaringan.

Yang paling menarik dari Y!M adalah status message yang secara sadar dipasang oleh si empunya akun.  Saat mulai menulis ini, misalnya, status yang dikumandangkan di jejaring Y!M saya antara lain menyuarakan perasaaan lahir/batin saat ini (“Sleepyhead”, “Fiuuuhhh”, “lelah”, “Saya sakit kepala”, “ndase mumet”); atau pernyataan tentang sesuatu yang lebih dalam – atau luas (“Insyaallah…”, “I never find someone like you”, “nobody could love you more than i do”, “Peace is not something you wish for..”, “Life is beautiful”).

Yang lain menautkan status mereka dengan akun My Yahoo!, twitter, atau ke music player.

Lain lagi status di facebook atau twitter; yang lebih dinamis, berubah dalam hitungan menit – bahkan detik.

Sepertinya status lebih dari sekadar kata, frase atau kalimat yang menggambarkan perasaan/pikiran si penulis, lebih dari sekadar cermin yang memperlihatkan diri si penulis – you are what you say (about yourself), lebih dari sekadar ‘mantra’ yang dituliskan untuk orang lain – terlebih untuk diri sendiri; status bisa jadi ‘kaca pembesar’ untuk pesan yang disampaikan.

Baguslah kalau status itu berisi pesan yang baik.  Tapi, bagaimana kalau berisi pesan yang kurang baik – keluhan, umpatan, sumpah serapah?  Jangan-jangan efek sampingnya saya justru menggandakan ke-negatif-an itu.

Saat saya mengupdate status menjadi ‘merambang-rambang‘ setelah pertama kali mendengar kata itu dari siaran radio dan berpikir “Keren juga nih kosakata baru! Kayanya pas sama isi hati/kepala”, jangan-jangan saya justru mendoakan diri sendiri agar terus merambang-rambang?  Jangan sampai, deh!  (Walaupun tidak ada yang salah dengan hal itu.)  Cepat-cepat saya hapus status itu, sebelum dia justru menjadi bumerang.  (Saya tidak mau selamanya ‘tanpa tujuan tertentu’.)

Saya malah jadi berhati-hati dalam mencantumkan status.  Pada saat mengatakan ini pun, saya merasa aneh: kenapa juga urusan status jadi berlebihan seperti ini?  Jawabannya: saya bisa saja (berusaha) tidak peduli akan komentar orang lain, tapi belum tentu saya berhasil ‘lolos’ melalui komentar dari diri sendiri – I am my worst enemy.

Suatu hari saya mengutip Eleven Minutes karya Paulo Coelho: “everything tells me that I am about to make a wrong decision” (Lengkapnya: “Everything tells me that I am about to make a wrong decision, but making mistakes is just part of life. What does the world want of me? Does it want me to take no risks, to go back to where I came from because I didn’t have the courage to say “yes” to life?”).  Seorang teman lama jadi bertanya-tanya:

czarc (12/7/2009 3:29:03 PM): hi there
twiras (12/7/2009 3:29:23 PM): hi czar
czarc (12/7/2009 3:29:28 PM): how u doing
twiras (12/7/2009 3:29:29 PM): long time
czarc (12/7/2009 3:29:34 PM): long time no hear
czarc (12/7/2009 3:29:36 PM): :)
czarc (12/7/2009 3:29:44 PM): how is it going
twiras (12/7/2009 3:31:30 PM): things r going up and down here
twiras (12/7/2009 3:31:35 PM): how bout u?
czarc (12/7/2009 3:31:42 PM): saw your ym title just now
czarc (12/7/2009 3:31:54 PM): mind sharing with me

Dia kira saya sedang bergelut dengan suatu masalah.  (Faktanya, siapa sih yang tidak dihadapkan dengan masalah? Dan ‘masalah’ di sini bermakna ‘sesuatu yang harus diselesaikan’.)  Saya jelaskan bahwa itu hanya kutipan dari buku.  Dia sepertinya menerima penjelasan itu.  Saya tidak.  Percakapan beralih ke topik lain.  Pikiran saya ‘nyangkut’ di topik status tadi.  Saya bahkan tidak percaya dengan penjelasan itu.  Pada waktu menuliskan kutipan tadi, saya merasa biasa saja.  Memang, saya sedang mempertimbangkan kalau-kalau pilihan yang saya ambil salah.  Dan kalimat itu mewakili kekhawatiran saya secara ‘artistik’.  Tetapi, saat kalimat itu memantul balik ke arah saya, efek gaungnya justru membuat saya semakin tidak tenang.

“everything tells me that I am about to make a wrong decision”

“everything tells you that you are about to make a wrong decision”

“you are about to make a wrong decision”

“to make a wrong decision”

“a wrong decision”

(Hahaha..  Gawat! Saya suka efek dramatisir ini.)

Singkat kata, kekhawatiran itu malah jadi berpangkat dua.  Berlipat ganda.  Memperbesar diri.  Dan itu tidak baik buat saya.

Lalu, bagaimana dengan status dengan kandungan pesan positif?

Nah, sepertinya lebih sulit diukur.  Seingat saya belum ada satu status message yang memberi efek double-the-fun.  Lebih mudah memancing respon orang lain dengan gelagat mengarah negatif daripada dengan gelagat mengarah positif, sepertinya.  Maksud saya, respon yang tulus.. bukan sekadar respon for-the-sake-of-commenting.  Although, I do take pleasure on others retweeting mine or giving me a thumb under my fb status update.  Jarang-jarang nih. :D

Saya ingin menjaga status (karena jaga imej sepertinya sudah kuno) supaya orang-orang – termasuk terlebih diri saya sendiri – tidak sakit mata, apalagi sakit pikiran dan sakit hati membaca kata, frasa atau kalimat yang saya sorakkan ke jagat maya.  Syukur-syukur bisa menyemangati.

Hey.. this is me.  What about you?